Kemah Regu di Gunung Puntang

Sabtu, 16 Desember 2017

Sore hari sekitar pukul 4 atau setengah 5

Berkabut putih tebal

Blok A5 Buper Gunung Puntang

Lima orang penggalang akhirnya memutuskan berangkat berkemah

Ken, Indra, Seruni, Raisha, Nafa, anggota Regu Kumbang Tanduk dan Regu Lavender

Saat ini mereka sedang eksplorasi dan hunting foto. Ada cukup banyak tempat menarik untuk dieksplor, walaupun sayang menurut penjaga, Puncak Mega dan Curug Siliwangi tidak bisa didatangi karena rawan longsor.

==================

Persiapan dimulai pukul 08:00 di sanggar 13. Baru ada 3 orang saat saya tiba. Nafa ditemani neneknya, lalu ada Indra dan Raisha. Setelah ngobrol sebentar bersama neneknya Nafa, Ken datang, lalu kami pun mulai cek perlengkapan. Dan ternyata Regu Kumbang Tanduk yang hanya berdua mereka hanya bawa tas isi baju saja plus makanan roti dan snack. Bahkan alat masak pun tidak bawa. Berbahaya 🙂

Walaupun hanya kemah satu malam tapi peralatan tetap harus lengkap. Untungnya saya ada tenda dan parafin jadi nanti bisa dipakai bersama. Tinggal belanja beras, telur, dan bumbu. Saya minta mereka belanja dulu ke Pasar Palasari.

Tak lama Seruni datang. Regu Lavender mah lumayan peralatannya lengkap. Karena ayahnya Seruni juga ikut (bakal jauh-jauh katanya nanti tendanya, hehehe), jadi peralatan kemah Regu Lavender aman.

Saya minta Regu Lavender pergi carter angkot Banjaran-Tegalega. Berangkatlah mereka semua, tinggal saya sendiri. Tak lama ibunya Seruni datang, ia menitipkan 1 gas hi-cook untuk kompor portabel, lalu pergi lagi.

Tiba-tiba ada message line, “Kang angkotnya PP minta 300.” “Oke.” Saya balas. Lalu muncul message lagi, “Kang, gak mau, minta 350.” “Boleh lah, masih masuk ongkosnya.”

Semua pun kembali ke 13.

Setelah anak-anak Regu Kumbang Tanduk mengambil wajan, spatula, dan tali dari sanggar, sebelum berangkat, kami berdoa, minta kelancaran dan keselamatan.

Supir angkotnya cerewet, mobilnya juga cukup tua. Sebelum berangkat dia minta bendera untuk dipasang di depan angkot. Biar aman katanya. Setelah bendera terpasang kami pun berangkat, pukul 9 tepat!

Perjalanan sangat panjang dan membosankan. Saat masuk kawasan pabrik lalu Jalan Sayuran, lalu ke Rancamanyar, hingga ke Banjaran, benar-benar macet total. Sama sekali tidak kebagian lancar. Kabarnya di Baleendah banjir hingga sedada.

Cemilan sudah habis, obrolan juga sudah habis. Akhirnya gantian tidur. Terus karena angkot tua, berkali-kali angkotnya berhenti, untuk ganti busi dan membersihkan CID. “Punten A, ganti busi heula.” Begitu bapak supirnya bilang berkali-kali.

Setelah lewat Banjaran barulah jalanan lancar jaya. Belok Cimaung lalu nanjak menuju gerbang Gunung Puntang. 4 jam lamanya perjalanan Bandung – Puntang. Setelah bayar tiket masuk @Rp20.000 per orang, kami pun diantarkan hingga pelataran parkir. Mantap! Pantat pegal-pegal 🙂

Turun dari angkot. Supir angkot langsung angkat jok depan untuk mengganti busi lagi 🙂

Di parkiran, ayahnya Seruni sudah tiba sejak pukul setengah 12. Lebih cepat karena lewat tol Soreang. Setelah ngobrol sebentar, saya minta anak-anak berkumpul. Cek semua barang, lalu disimpan dekat pohon. Anak-anak setelah itu saya minta untuk mencari lokasi kemah yang nyaman. Syaratnya, datar, tidak ramai, dan dekat air.

Setengah dua hujan mulai turun. Kami bergegas membawa semua barang-barang ke lokasi dan mendirikan tenda. Adik-adik cukup kesulitan karena mendirikannya sambil hujan-hujanan. Jam dua barang-barang semua masuk tenda. Lalu bergantian kami salat Dzuhur dan mulai memasak. Seru juga karena pada baru pertama kali memasak, mereka semua excited.

Setengah tiga, nasi liwet Regu Kumbang Tanduk dan kentang sosis Regu Lavender pun matang. Happy lunch everyone!
IMG_20171220_055816
Kejadian menarik:
Celana Indra sobek, pas di selangkangan sepanjang 20 cm. Tapi lucunya, walaupun gak bawa alat masak/alat makan, alat jahit mah bawa.

Sosis Regu Lavender tutung. Apinya kebesaran.

Sekarang kita tunggu bagaimana hasil eksplorasi adik-adik…

… dan hasilnya, semua tempat sekarang jadi penuh cinta dan love 🙂

17:30 Hujan turun lagi…

=====================

Minggu, 17 Desember 2017

Pagi hari, di Puntang….

Tes… tes… tinta pulpen pun kedinginan jadi agak seret.

Akhirnya sinar matahari menyapa, ditemani sisa-sisa api unggun.

Setelah selesai urusan pagi (mandi, buang air, sarapan) kulanjutkan menulis jurnal.

======================

Tadi malam sambil ditemani hujan rintik-rintik, kami salat Maghrib berjamaah, entah mengapa salat di alam terbuka itu lebih khusyuk… dan dingin…

Lepas salat kami pun bergegas kembali ke tenda lalu memasak makan malam. Sambil ngobrol riang Regu Kumbang Tanduk memasak air panas untuk susu coklat dan krim sup. Sementara di tenda sebelah, Regu Lavender tengah membuat nasi liwet. Sekitar pukul setengah 8 krim sup yang cair pun jadi. Kayaknya terlalu banyak air, jadi gak ada kental-kentalnya sama sekali.

Tiba-tiba Seruni memanggil, “Kang, nasinya gigih!”

Wah, nasinya tengah gigih berjuang, hehehehe…. Wajar saja kurang matang, waktu mulai masak airnya kurang dari satu buku jari. Kuminta tambahkan air lalu masak kembali. Hasilnya lumayan lah, masih agak keras, tapi bisa dinikmati.

Hujan belum mereda. Sambil menunggu kami mencoba membiasakan mata melihat di tempat gelap. Sekarang mah praktis, di hp pasti sudah ada senternya. Jadi kalau mau kemana-mana tidak takut gelap.

Pukul setengah 9, kami berkumpul lagi untuk salat Isya dan membuat api unggun. Lumayan di warung bawah ada kayu bakar Rp15.000 dua ikat. Ternyata sulit juga bikin api unggun di tengah gerimis, kayunya jadi sedikit basah. Untunglah ada parafin. Sekitar pukul 9 api unggun menyala.

Ciptaan Tuhan yang satu ini memang sangat cepat menghangatkan tubuh yang sedang kedinginan. “Hayu bikin sosis dan baso bakar!” Kata salah satu anggota Regu Lavender. “Eh, tapi gak ada tusukannya.” “Aku ada.” Indra menimpali. “Kemaren beres UAS nemu di kelas. Gak tahu punya siapa, jadi saya bawa.”

Api unggun itu memang begini harusnya, apinya kecil saja, duduk melingkar, sambil bakar makanan, terus berbagi cerita-cerita horror… 🙂
IMG_20171220_055836
Pukul 10 malam, setelah kantuk mulai menghampiri kami kembali ke tenda masing-masing. Saya kebagian korve pertama, Ken kedua, dan Indra terakhir. Pas masuk tenda, eh ada indomie, hayu masak lagi! Hehehehe.

Lengkaplah sudah hari pertama. Diakhiri dengan indomie rebus. 🙂

Catatan malam:
Celana Indra sobek lagi.
Saat jaga korve, shift pertama tidak ada kejadian apa-apa, semua aman.
Shift kedua, Ken sulit dibangunkan, terus setengah dua Ken mendengar suara anak kecil sedang bermain entah di mana.
Shift ketiga, Indra tertidur pulas.
Alarm dimatikan oleh saya.

Jam 4 juga sama, alarm nyala, dimatikan, lalu kami semua tidur lagi. Jam 5 lebih barulah kami semua bangun untuk salat Subuh berjamaah. Brrr…..

===========================

Catatan saat pulang di angkot:

Seruni: Pertama kali kemping tanpa ortu, harus lebih mandiri. Biasanya tinggal duduk manis, tidur nyenyak, dan makan enak tanpa perlu susah payah. Camp bersama Regu Lavender dan Kumbang Tanduk ini sangat mengasyikkan, aku belajar memasang gas, menyalakan kompor, mencuci piring, membereskan semua perlengkapan sendiri, serta memasak meskipun sosis tutung, nasi gigih, roti juga tutung.

Nafa: Pertama kali ikut persami. Di SD ga pernah sih, da ga ada pramuka. Pas SD camping itu di villa, 3 hari 2 malam. Makan disediain. Sekarang mah 2 hari 1 malam, masak sendiri, tenda di alam, tanpa sinyal. Pas lagi jalan ke Gua Belanda yang disuruh explore sama akang, ketemu anjing. Tau-tau ngegonggong aja. Katanya kan kalo kayak gitu teh ada sesuatu. Ya pokoknya seru. Banyak kejadian. Jadi pengen camping lagi.

Ken: Bisa dibilang juga, ini adalah kejadian persami/camping yang… ehm… paling berkesan! Biasanya saya camping mempunyai persiapan yang benar-benar niat. Nah, kalau yang satu ini karena persiapan kurang mantab, hampir segala hal, setiap menit, jadi bahan tertawaan :v, seperti cream soup (kuah), telur bakar, legenda minyak yang dapat menghilang, cara cepat mengganti busi, celana sobek 20 cm (kurang lebih :v), monumen cinta dimana-mana, dll. Singkat saja sekian…

Raisha: Terguncang! Nulis dalam mobil (angkot lebih tepatnya) yang sering ganti busi. Jadi maaf kalo tulisan gak kebaca dan naik-naik kepuncak gunung. Cukup 3 kata sih buat kemping kali ini, 1 bucin, 2 uniq, dan 3 ekstrem. Jelasin satu-satu deh. Disini banyak banget tempat seru yang bisa diexplore ya salah satunya all about cinta-cintaan lah ahahaha. Disini kita berasa bucin banget. Setiap spot lope-lope, kita musti foto dengan berbagai gaya dari mulai gerbang lope, gembok lope, ada kayu berbentuk I love U. Yang kedua uniq, dari tempat cuci piring sampai sosorodotan ukuran s. Yang bikin uniq disini airnya jernih banget gak salah lagi kalo setiap ada aliran air jernih pasti excited banget!!! Yang ke-3 extreme. Kita bisa explore apapun yang ada disini. Ya… misalnya tadi sih masuk-masuk lorong yang ada di lope pool, walalupun gak ada plang, masuk aja toh kita bisa keluar lagi. Yauda gini aja bisi habis tintanya sekian makasi.

Indra: “Ngke Kang, mun baca/nulis di mobil teh langsung lieur.”

==================

Hari minggu, hari terakhir.

Di saat-saat sunyi Puntang memperlihatkan kewibawaannya. Bahwa alam tidak membutuhkan manusia. Manusialah yang membutuhkan alam.

Saat Puntang dirusak dengan sampah dan pembangunan, maka dampaknya akan kembali lagi ke kita manusia. Banjir, longsor, kekeringan, adalah cara alam untuk mencari keseimbangan. Jejak-jejak kehidupan akan selalu datang dan pergi, seperti reruntuhan gedung Radio Malabar dan kolam cintanya. Apakah kita sekarang akan meninggalkan jejak yang baik atau sebaliknya?

“Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.”

Gerakan Pramuka Gugusdepan Kota Bandung 13007-13008 Panduputra-Nagagini Pangkalan SMP Negeri 13 Bandung.

Tagged with: , , , , , , ,
Ditulis dalam Pasukan Christina Martha Tijahahu, Pasukan Sam Ratulangi, Perkemahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Sekali Memandu! Tetap Memandu!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 1.300 pengikut lainnya

Arsip
Kategori
%d blogger menyukai ini: