Hai Gunung Merbabu! Celoteh Semangat Para Perindu Ketinggian

Waktu Perjalanan : Sabtu, 3 Januari 2015 Pk.05.20 WIB — Rabu, 7 Januari 2015 Pk. 03.30 WIB
Rute Perjalanan : Jalur Pendakian–Jalur Wekas
jalur pendakianGn. Merbabu
peta merbabuJalur Pulang–Jalur Selo
jalur pulang
Pimpinan Perjalanan : Muhammad Raihan dan Dega Damara Aditramulyadi
Tim Perjalanan : 1.  Dega Damara A.
2.  Muhammad Raihan
3.  Muhammad Fadhlillah A.
4.  Julyestra Vidha T.
5.  Mila Dian H.
6.  Widi Auliagisni
7.  Widyatri Pusparini
8. Widyarina Ramadhani
Estimasi Biaya : Transportasi dan Akomodasi
tiket ka

  • BERANGKAT (Jalur Wekas)

1. Kereta Pasundan Ekonomi Rp 135.000,-/orang (St. Kiaracondong–St. Lempuyangan)
2. Transjogja Rp 4.000,-/orang (halte SMP 5–Term. Jombor)
3. Bus Rp 12.000,-/orang (Term. Jombor–Term. Magelang) fyi: bus ini paling telat pukul 5 dari Term. Jombor, jadi usahakan sudah di terminal sebelum pukul 5 sore yah.
4. Sewa angkot dari Term. Magelang menuju Gerbang Wekas Rp 300.000,-/mobil fyi: kendaraan terakhir untuk mengantar ke basecamp/gerbang wekas hanya sampai pukul 7 malam. selalu yakinkan jumlah yang dibayarkan untuk sewaan dengan tujuan yang jelas.
5. Tiket masuk Taman Nasional Gunung Merbabu jalur Wekas-Kedakan beserta Asuransi Rp 5.000,/orang

B. KEPULANGAN (Jalur Selo)

1. Sewa mobil dari basecamp Selo sampai halte transjogja UGM Rp 500.000,-/mobil
2. Transjogja Rp 4.000,-/orang (halte UGM–halte SMP5)
3. Kereta Kahuripan Ekonomi Rp 130.000,-/orang (St. Lempuyangan–St. Kiaracondong)
Perbekalan makanan masing-masing

 

If you want to go fast, go alone.

if you want to go further, go together.

(African Proverb)

Perjalanan kali ini menuju ketinggian 3142mdpl di Puncak Gunung Merbabu mengajak kami ber-8 kembali berkumpul di tanah permainan. Seperti proverb diatas, kami melakukan perjalanan bersama untuk satu tujuan, dan pilihannya bukan cepat sampai yang kami cari. Layaknya perjalanan sebelumnya, rangkaian persiapan selalu kami kedepankan. Ada sebuah pepatah mengatakan, “Jika kita gagal merencanakan sebuah tujuan itu artinya kita merencanakan kegagalan tujuan tersebut.”

Dimulai dari H-7 keberangkatan, kami digalakkan untuk setidaknya selalu melarikan diri kami sebanyak enam putaran lapangan saparua setiap harinya. Dimulai dari janjian berlari bersama hingga hanya saling mengontrol kabar via line. hmm.. memang butuh perjuangan besar padahal baru tahap persiapan. Persiapan lain pun tidak luput kami siapkan, yaitu perencanaan jalur perjalanan serta pembagian logistik pribadi dan kelompok agar prinsip 3E* tidak terlupakan. *fyi: 3E itu Enak Makan, Enak Jalan, dan Enak Tidur.

H-5 keberangkatan, berkumpul di salah satu rumah rekan seperjuangan, kami membicarakan rute perjalanan dimana rencananya pendakian kali ini akan melalui jalur Selo. Mendekati hari keberangkatan, kesangsian akan jalur yang telah kami rencanakan akan kami lewati semakin bertambah. Kami mendapatkan banyak masukan mengenai curah hujan yang sering dan cuaca yang tidak menentu–berangin sampai bisa dikatakan badai–di jalur pilihan kami. Hal itu membuat jalur Selo menjadi terlalu berbahaya. Kondisi diatas bukan hal utama yang membuat kami mengganti jalur pendakian, ketidaktahuan kami akan lokasi basecamp Selo dan bagaimana cara agar sampai sanalah yang akhirnya mengubah rencana perjalanan tepat pada hari H. Peralatan, pribadi maupun kelompok, disiapkan dengan maksimal agar tidak menghambat perjalanan.

Jam-jam sebelum keberangkatan.

Sebelumnya perkenalkan, Kami ber-8 terdiri dari Raihan dan Dega sebagai pimpinan perjalanan, dan Fadlillah sebagai sweepingman karena posisi berjalannya yang selalu paling akhir. Mereka menyebut diri mereka regu lumba-lumba bercahaya. Sisanya kami para putri nagagini yang terdiri dari Widi, Vidha, Rina, Yatri, dan si setrong Mila.

H-10 jam atau tepat tanggal 2-Jan-2015 malam harinya, kami semua–kecuali Yatri, menyusul–bermalam di tempat salah satu Kakak tertua (re: Teh Santi) karena rumah beliau yang berdekatan degan stasiun keberangkatan. Tepat keesokan paginya, pukul 05.20 WIB kami berangkat dari Bandung dengan dibekali rantang makan pagi buatan “Bunda Shihab” dan ransel besar tiap orangnya. Perjalanan dari rumah Teh Santi menuju stasiun merupakan pembuka perjalanan kami pada pagi hari itu. Diiringi doa bersama, perjalanan kami dimulai…

05.20 — 14.08 WIB

kereta 1

Sesaat sebelum keberangkatan

Kereta Pasundan membawa kami menjelajah siang menuju Kota Jogjakarta. Perjalanan yang sepanjang harinya kami hanya duduk dalam waktu cukup lama tidak menyurutkan semangat kami akan tujuan awal kami menempuh perjalanan sejauh itu. Sedikit bercerita, kebimbangan akan jalur awal perencanaan semakin bertambah seiring jarak yang semakin pendek.

Tibalah waktu dimana kami akhirnya sampai di St. Lempuyangan. Sambil menunggu kedatangan sang penunjuk jalan (re: Soleha), kami beristirahat, shalat, makan, dan kembali mempersiapkan perlengkapan yang belum sempat terbawa dari Bandung.

Lalu.. Yang ditunggu akhirnya sampai…

Kedatangan Soleha memantapkan perubahan rencana akan rute pendakian semula. Pendakian akan di lakukan melalui jalur Wekas yang menurut sumber lebih aman terhadap cuaca ekstrem namun memiliki tipe jalur yang menanjak tiada henti.

16.00 — 22.30 WIB

Perjalanan menuju basecamp Wekas dari St. Lempuyangan dimulai dari mencari halte transjogja terdekat dengan berjalan–yah mau pake apalagi–terus naik transjogja tujuan terminal Jombor. Fyi: kami dibagi 2 rombongan transjogja karena ransel yang super banget ganggunya *eh gedenya. Di terminal Jombor kami harus naik bus yang akan membawa kami menuju terminal Magelang, saat tiba di terminal Jombor waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB yang artinya bis yang kami tumpangi menuju terminal Magelang adalah bis terakhir sore itu. Sekitar pukul 19.00 WIB kami sampai di terminal Magelang, suasana terminal sudah sepi dan hanya ada beberapa kendaraan umum yang masih beroperasi. Kondisi bawaan kami yang menandakan identitas kegiatan yang akan kami lakukan membuat para warga di terminal menawarkan kendaraan untuk mengantarkan sampai basecamp wekas. Tips: selalu pastikan dan yakinkan jumlah tawaran kalian dengan tujuannya kepada supir dan calo sudah sah dan sepakat.

Pengantaran sampai basecamp Wekas hanya sebuah harapan belaka. Tepat pukul 20.00 WIB di depan gapura Wekas kami dipaksa turun dari kendaraan, berbeda dengan perjanjian awal yang kami sepakati dengan warga di terminal yang seharusnya mengantarkan kami sampai basecamp Wekas. fyi: Letak basecamp dan Gapura Wekas bisa memakan waktu 2 jam dengan kondisi jalan terjal mendaki walaupun menurut warga disana dekat. Menurut supir kendaraan yang membawa kami, jumlah yang sudah disepakati hanya akan mengantarkan kami sampai gapura Wekas, itu membuat kami dongkol–merasa tertipu–karena harus melalui perjalanan ke basecamp yang menghabiskan tenaga dan waktu istirahat.

Rasa dongkol harus segera terlepas tetap agar perjalanan terasa lebih menyenangkan. Perjalanan yang terjal menanjak menyambut kami dengan sapaan manisnya. Pandangan ke atas menyurutkan semangat dan melemahkan baut pada kaki kami. Formasi Raihan-Mila-Yatri-Fadhil-Rina-Vidha-Widi-Dega berjalan berbaris membaduy berusaha dilakukan untuk menaklukan rasa lelah. Dipertengahan perjalanan walau banyak hal–yang tidak dipungkiri karena kurangnya informasi, persiapan fisik, dan jatuhnya semangat–tidak mengenakkan terjadi, bantuan dari Allah SWT tidak akan pernah habis. Itulah mengapa pada akhirnya kami bisa menatap sebuah pos berpencahayaan redup itu.

Akhirnya tepat pada pukul 22.30 WIB kami sampai di basecamp wekas. Setelah mendaftarkan diri dan jalur yang akan dilalui, kami segera beristirahat, shalat, dan makan malam. Udara malam di basecamp sudah membuat menggigil, kami pastikan prinsip 3E tidak dilupakan. Zzzz…

tiket masuk

Tiket masuk Taman Nasional Gunung Merbabu

wekas

Saat sampai basecamp wekas

05.00 — 08.30 WIB (4 Januari 2015)

Pagi itu terbangun dengan udara dingin yang masih bisa ditoleransi. Kami ber-8 segera menjalankan ibadah shalat shubuh, menyelesaikan kegiatan pribadi, packing, dan sarapan pagi. Sambil menunggu makanan sarapan pagi dibuatkan, beberapa dari kami berkeliling desa kenalan dan mencari pemandangan untuk berfoto pagi. Dari samping gereja kami mendapatkan pemandangan asri pagi hari.

pagi hari

Landscape pagi hari di Desa Kenalan

09.00 — 13.30 WIB

Perjalanan dimulai dengan semangat yang diteriakkan oleh papan penunjuk yang bertuliskan “5 km, Puncak!”.

Dihadapkan kembali oleh jalan terjal menanjak, langkah demi langkah kami jejakkan pada jalan tersebut. Tujuan sementara pada langkah awal pagi itu adalah pos II jalur pendakian Wekas. Perkiraan waktu tempuh perjalanan tidak meleset, dengan jalan yang terus menanjak tanpa akhir dan tanpa banyak hambatan.

menuju pos

Pendakian kembali setelah beristirahat semalaman

Diselingi istirahat dengan seteguk air dan segenggam coklat cha-cha, rasa lelah terasa dihilangkan sementara. Garis bawahi sementara yah readers. Karena jalan yang menanjak tanpa henti, setiap kali melihat batang pohon melintang atau jalan yang sedikit mendatar disitulah kami mencuri waktu untuk kembali meluruskan kaki sejenak, mengatur napas, dan berfoto ria. Hahaha yang terakhir tidak boleh tertinggal.

Akhirnya menemukan pos I sesaat setelah istirahat entah keberapa kalinya. Tanpa kembali berhenti, Kami melanjutkan perjalanan menuju pos II. Terdengar dari kejauhan suara orang berbicara yang menjadi penanda bahwa pos II semakin dekat. Fyi: pos II merupakan pos terakhir menuju puncak yang menyediakan lahan yang luas untuk membangun tenda.

Kira-kira pukul 13.30 WIB, kami dihadapkan pada lahan luas. Itulah pos II tempat dimana kami akan bermalam. Sesampainya disana bukannya membangun tenda karena cuaca mendung, kami mengistirahatkan kembali kaki sambil berfoto ria.

saat di tenda

Gbr 1. Di perjalanan diatas lintangan batang pohon, Gbr 2. Sesaat sesudah menjejakkan kaki di pos II, Gbr 3 dan 4. Mempersiapkan hidangan makan siang dan makan bersama di dalam tenda

Lalu, tiba-tiba saja langit menitikkan airnya seakan tidak suka kami berleha-leha. Dibawah rintikkan hujan, kami membagi tugas untuk membangun tenda dan menutupkan flysheet diatas tenda kami. Tenda telah berdiri dan tak berapa lama hujan pun terhenti. Setelah pendirian tenda berhasil, kami melakukan shalat dan menyiapkan makan siang yang menuju sore.

Makan siang kali ini ditemani dengan potongan daging ikan kaleng, telur, dan nasi putih. Sore itu diisi dengan cerita perjalanan yang menurut kami sangat melelahkan karena jalurnya, hingga kesangsian akan jalur menuju puncak esok hari timbul. Kegiatan malam itu hanya mempersiapkan makan malam dari dalam tenda karena tenda kembali di datangi hujan sampai menuju malam. Tepat pukul 22.00 WIB kami diharuskan beristirahat agar esok dini hari kami bisa bersiap melakukan perjalanan selanjutnya.

Malam itu hujan turun terus-menerus, tenda mulai dirembesi air hujan, membuat dinding tenda lembab dan berair. Kondisi cuaca yang kembali hujan ini membuat kami melakukan rapat dadakan. Dimana topik pembicaraan rapat mengenai lanjut atau tidaknya perjalanan menuju puncak merbabu. Berdasarkan kondisi mental dan fisik anggota tim, diputuskanlah beberapa pilihan yang tergantung pada keadaan cuaca esok dini hari.

03.00 — 05. 30 WIB (5 Januari 2015)

Dini hari kami terbangun dengan cuaca basah bekas hujan semalam. Kembali diadakan rapat dadakan pemungutan suara lanjut atau kembali dengan beberapa pertimbangan. Didapatlah lima suara menyatakan lanjut dan sisanya yang lebih sedikit menyatakan tidak.

Suara terbanyak pagi itu membawa kami ke puncak merbabu. Bersiap kembali dengan barang bawaan yang diperingan dengan mengurangi bahan makanan, bahan bakar, dan air yang berlebih, kami kembali packing pagi itu. Setelah shalat subuh dan merapikan bekas bermalam, kami segera memulai perjalanan pagi itu menuju puncak.

pagi hari 2

Sesaat sebelum kembali memulai perjalanan menuju puncak Gunung Merbabu

05.30 — 13.00 WIB

Perjalanan kali ini lebih ber-ritme karena tiap 20 menit berjalan selalu diselingi 5 menit istirahat. Berangkat dalam keadaan perut terisi roti membuat kami tidak terlalu kelaparan. Namun, setelah beberapa jam perjalanan akhirnya kami berhenti untuk membuat sarapan pagi.

Tepat pukul 09.00 WIB pagi kami berada di atas puncak pemancar, jika kami tidak salah lokasi. Disuguhi pemandangan tak berbatas diatas tebing membuat kami tak hentinya bersyukur kepada Allah atas kehendaknya agar kami sampai disana. Tetapi perjalanan belum berhenti sampai disana. Setelah megabadikan momen terindah bersama alam dan tim, kami segera melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini lebih terpapar sinar matahari dan kondisi jalan berbatu. Gunung merbabu memiliki 3 puncak yang berbeda ketinggiannya. Kami melewati puncak ketiga yaitu puncak geger sapi.

Ditengah perjalanan menuju puncak selanjutnya, disela-sela jalur perjalanan yang mendaki, kami diharuskan melalui jalan dengan melipir tebing. Lintasan tersebut tidak bisa dilalui sambil membawa ransel, oleh sebab itu kami menaikkan ransel terlebih dahulu dan setelahnya kami lalui tebing tersebut dengan cara berjalan miring menempel pada tebing.

menaikkan ransel

Tindakan penyelamatan barang bawaan saat melipir tebing

Setelah seluruh tim dan barang bawaan naik, kami lanjutkan perjalanan menanjak tersebut. Tak berapa lama kemudian, lagi-lagi alam menyuguhkan keindahannya. Hamparan luas awan dibawah kaki kami membawa imajinasi kami masing-masing terbang membayang. Perjalanan semakin lama semakin mendekati puncak. Itulah perjuangan yang mengharuskan kita berjalan dengan pemandangan alam yang tidak terkuantisasi indahnya, semakin terbayar.

puncak

Mengabadikan seluruh momen bersama alam yang indah

menuju puncak

Mendaki, menunduk, menopang, dan mengucap “Subhanallah”

Bukan mencari upah perjalanan yang kami cari, itu hanyalah bonus dari sang maha kuasa atas perjuangan itu sendiri, melainkan pengalaman agar kami semakin bersyukur atas kuasa-Nya. Sampailah kami di puncak tertinggi Gunung Merbabu, Puncak Trianggulasi. Dari atas sini kami bisa memandang tepat ke atas puncak gunung Merapi diseberang sana. Terima kasih tim untuk sampai bersama ke Puncak Trianggulasi Gunung Merbabu dan untuk semangat yang masih terjaga sampai perjalanan pulang selanjutnya.

puncak asli

Berpose ala-ala anak gunung di Puncak Gunung Merbabu 3142 mdpl

14.00 — 17.00 WIB

Berbekal kompas dan peta, kami berhasil menemukan jalan turun dibalik kabut yang menebal. Setelah puncak tertinggi terlewati, saatnya turun melalui jalur berbeda–jalur selo. Tujuan terakhir perjalanan ini adalah basecamp selo. Perkiraan lama waktu perjalanan sekitar 5 jam, tetapi perjalanan yang kami tempuh untuk sampai basecamp selo lebih dari 5 jam.

Dari puncak trianggulasi kami berjalan menurun melewati hamparan edelweiss. Tiba di pos V a.k.a. Sabana II dengan melewati terpaan angin pembawa kabut. Selanjutnya tepat di pos IV a.k.a. Sabana I semua dihantam terpaan angin dingin dan rintik hujan. Berhenti sejenak untuk menggunakan mantel anti air/ jas hujan, rasa dingin mulai tertahan dengan baik.

Perjalanan kembali dilanjutkan melewati padang edelweiss, akhirnya kami sampai di pos III dengan sehat. Pada pos III ini, kami beristirahat untuk shalat dan makan siang yang kesorean. Karena sudah tidak mengenakan ransel, angin dengan seenaknya menyusup masuk mendinginkan badan. Setelah shalat dan makan sereal secukupnya, kami segera membereskan tempat beristirahat dan melanjutkan perjalanan.

puncak 2

Setiap momen perjalanan memiliki ceritanya sendiri

17.00 — 17.30 WIB

Dari pos III kami melanjutkan perjalanan menuju pos II. Di pos II kami berpapasan dengan beberapa pendaki yang baru memulai perjalanan. Setelah bertukar sapa dan kabar mengenai kondisi di jalur sebelumnya, kami kembali melanjutkan perjalanan.

17.30 — 19.34 WIB

Jalur selo memang lebih selow dari jalur wekas. Namun, jarak yang jauh membuat perjalanan terasa tak berujung. Dengan tenaga anggota tim yang semakin menurun seiring berjalannya waktu, perjalanan menjadi lebih sering terhenti untuk sejenak beristirahat dan meluruskan kaki. Perjalanan dari pos II ke pos I sangat lama dan panjang. Kondisi jalan yang basah dan langit yang mulai gelap membuat ritme perjalanan menjadi melambat. Setiap dataran yang terjejaki memberi kami prasangka bahwa itu adalah pos I yang kami nantikan. Namun, perjuangan tidak semudah itu. Perkiraan jarak yang mampu ditempuh hanya selama satu jam menjadi dua kali lipat saat kami akhirnya melihat penanda pos I tergantung.

19.34 — 21.55 WIB

Perjalanan dilanjutkan tanpa berlama-lama mengistirahatkan diri. Harapan kami semua saat itu hanya cepat keluar dari rerimbunan pohon dan mencari tempat bermalam. Hingga akhirnya kerimbunan berkurang dan cahaya lampu yang mulai terlihat mempercepat langkah kami. Diatas kepala kami semua tertulis sebuah plang penunjuk jalan bertuliskan:

gerbang selo

Akhirnya kami sampai kawan…

Namun, Semua pintu basecamp malam itu tertutup rapat layaknya desa tak berpenghuni. Kami mengetuk pintu tanpa ada balasan. Hanya ada satu rumah yang membukakan pintunya untuk kami, rumah tepat dipinggir jalan berladang. Rasanya tubuh lelah ingin segera diistirahatkan, tetapi apa daya perut berteriak kelaparan. Malam itu kami memasak, membersihkan diri, dan makan malam dengan segera agar bisa berisitirahat secepatnya.

6 Januari 2015

gerbang selo 2

Potret bersama pagi itu sebelum kembali menyentuh udara perkotaan

Pagi hari mengajak kami kembali meringkuk di kehangatan sleeping bag. Tugas sebagai seorang muslim yang mengharuskan kami tidak bermalas-malasan membuat semangat kami bangkit untuk bangun di pagi hari itu. Setelah selesai membereskan diri dan barang, kami menyewa sebuah mobil untuk mengantarkan kami ke halte transjogja UGM. Tepat tengah hari kami sampai di tempat tujuan. Berbekal ransel, kami kembali merecoki Soleha dengan menitipkan bawaan kami di kampusnya.

motor D

Sponsor utama perjalanan berkeliling Jogjakarta

malioboro

Pose ala-ala The Beatles di tengah jalan Malioboro

Menunggu pukul 18.42 WIB, waktu yang akan membawa kami kembali ke rumah menggunakan KA Kahuripan. Sesiangan itu kami berbelanja oleh-oleh keliling Malioboro. Makan siang yang menuju sore di pinggir jalan kota tersebut. Bersenda gurau menunggu Raihan dan Soleha kembali. Lalu teringat waktu kepulangan yang relatif cepat, kami makan dengan sangat terburu-buru–bukan karena waktu yang mepet namun jarak tempuh kembali ke kampus UGM yang memutar. Akhirnya diputuskan bahwa salah satu dari kami kembali ke kampus UGM menggunakan motor Soleha dan lainnya menggunakan transjogja.

Waktu menunjukan pukul 17.44 WIB di UGM. Saya yang kembali paling cepat karena bersama Soleha sangat was-was akan ketidakhadiran mereka sampai saat itu. Berbekal alat komunikasi modern, saya akhirnya menanyakan keberadaan mereka yang masih sangat jauh dari kampus UGM. Jarak tersebut memberi keputusan pada kami bahwa yang masih berada jauh di transjogja saat itu langsung saja menuju st. Lempuyangan agar tidak terlambat menaiki kereta, sedangkan saya segera menghubungi taksi yang dapat menampung barang bawaan kami ber-8 menuju St. Lempuyangan.

Waktu menunjukan pukul 18.27 WIB entah sudah berapa lama di depan st. Lempuyangan saya menanti kedatangan yang lain yang tak kunjung tampak batang hidungnya. Telepon dan SMS telah diluncurkan secara terus-menerus mengecek keberadaan mereka. Lari bolak-balik ke kantor pelayanan memohon penundaan tiket yang tidak bisa ditukar karena waktu yang sudah sangat dekat waktu keberangkatan. Meninggalkan ransel di depan stasiun dan berharap tidak akan diganggu maupun mengganggu orang lain. Memohon para ABRI yang berjaga di pemeriksaan tiket kereta api untuk memberitahukan kedatangan kereta yang sepertinya terlambat. Masih saja mereka tidak tampak.

Telepon semakin membombardir Yatri akan status keberadaan mereka. Saya panik saat itu. Waktu sudah menunjukan pukul 18.42 WIB dimana seharusnya kereta sudah datang dan berangkat. Tiba-tiba muncul Dega bercucuran keringat berlari bagaikan air hujan ditengah padang pasir. Bukan bermaksud berlebihan, namun saat itu perasaan pertama saya begitu lega. Kemudian kembali panik. DIMANA YANG LAINNYA? Sesaat tiba-tiba semua bermunculan di depan pintu masuk stasiun, bukan panik tertinggal yang kurasakan saat itu–karena memang kereta kahuripan masih belum muncul–namun, rasa lega yang sangat.

Mereka tiba dengan wajah merah berpeluh. Berpacu dengan waktu mengejar kereta dari halte transjogja terdekat–SMP 5. Berbicara terbata-bata mengatur napas sambil berjalan melewati gerbang pemeriksaan tiket dan identitas. Saat itu saya menyadari mereka benar-benar pejuang. Mungkin untuk pembaca ini hanya sekedar cerita semata, namun saat kalian melihat mereka datang dengan kaki berlari dan tubuh yang penuh keringat kalian akan tau teman macam apa yang telah saya miliki selama ini. Sungguh karunia luar biasa🙂. Cerita dibalik penantian saya mungkin hanya mereka ber-7 yang dapat menceritakannya. Saat itu saya berterima kasih pada Allah karena bisa kembali ke Bandung bersama mereka dalam raga yang sehat walaupun mungkin di kereta kami merupakan penyumbang aroma terbesar di gerbong 5 itu.

pose

Pose pasca perjuangan pengejaran kereta

kereta 2

dan setelah duduk nyaman didalamnya

Terima kasih untuk Bapak Sulistiarjo, seorang supir taksi yang sangat membantu saya menaikturunkan bawaan kami ber-8 dari mobilnya ke depan pintu stasiun. Menemani saya menunggu rekan tim yang lain yang tak kunjung muncul.

Seperti yang tertulis pada tiket masuk, kami melakukan tracking, hiking, dan climbing pada perjalanan mendaki dan menuruni Gunung Merbabu melalui dua jalur berbeda. Salam semangat!

Selalu semangat berjuang untuk mencapai puncak!

Be Prepared!

Setia-Siap-Sedia.

Dibuang sayang..
dibuang 1 Kuning yang kelelahan..
 dibuang 2 Langit indah menghiasi perjalanan pulang kami sore itu..
 dibuang 3 Pemilik salah satu basecamp di jalur pendakian selo
 dibuang 4dibuang 8

dibuang 9

dibuang 10

Beberapa penanda pos yang sempat ditemukan di bawah tumpukan sticker dan coretan
 dibuang 5 stuff yang harus selalu hadir di tiap perjalanan
 dibuang 6 sebuah kenangan dari Bapak Taksi super baik
 dibuang 7 Cekatnya tangan seorang pemeriksa tiket kereta

Ditulis oleh: Julyestra Vidha Thaashaar – @jvthaashaar

Gerakan Pramuka Gugusdepan Kota Bandung 13007-13008 Panduputra-Nagagini Pangkalan SMP Negeri 13 Bandung.

Tagged with: , , ,
Ditulis dalam Ambalan Nagagini, Ambalan Panduputra, Kegiatan, Pengembaraan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sekali Memandu! Tetap Memandu!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

Arsip
Kategori
%d blogger menyukai ini: