Persami Jayagiri Lembang

Jayagiri 2015

Salam pramuka! Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu saya adalah Muhammad Fauzan selaku Ketua Regu Elang Gudep 13007, saya akan menceritakan tentang persami yang dilaksanakan di Jayagiri-Lembang, pada tanggal 31 Januari – 1 Februari 2015, anggota regu yang ikut persami adalah: Saya sendiri, Agfa “Otong”, Farrel, Farhan, Raqi, kemudian dua orang dari Gudep 13008 yaitu Ashila dan Salma. Kami berangkat ke Jayagiri sekitar jam 10:00 dari pangkalan SMPN 13 Bandung, kami diberitahu oleh Kang Braja jalan untuk ke Jayagiri setelah itu kami dilepas. Tujuan pertama kami adalah Masjid Raya Lembang, pertama-tama, kami pergi menaiki angkot Kalapa-Buahbatu untuk mencapai Jln. Karapitan dengan ongkos Rp 2.000/orang, setelah itu kami pergi memakai angkot Kalapa-Ledeng, untuk mencapai terminal Ledeng butuh uang sebesar Rp 5.000, setelah mencapai terminal Ledeng kami menggunakan angkot St. Hall-Lembang untuk pergi ke Masjid Raya Lembang tarifnya juga Rp 5.000, setelah mencapai Masjid Raya Lembang sekitar pukul 11 lebih, kami beristirahat di sana dan membeli makanan yang ada di dekat masjidnya, setelah adzan berkumandang kami bergegas untuk menunaikan shalat dzuhur, setelah menunaikan shalat dzuhur kami bertemu dengan Kang Raihan yang memberitahu jalan untuk pergi ke gerbang Jayagiri, setelah itu kami dilepas, kami pergi ke gerbang Jayagiri dengan cara hiking. Tak terasa hanya dalam waktu belasan menit kami sudah tiba di gerbang Jayagiri dan bertemu Kang Braja di sana yang menunggu kedatangan kami. Setelah itu kami beristirahat sebentar, tak lama kemudian kami diperintahkan Kang Braja untuk mewawancarai penjaga Jayagiri, penjaga Jayagirinya bernama Pak Deddy, kami bertanya-tanya tentang Jayagiri hasilnya adalah: Jayagiri dikelola oleh perhutani, tidak ada hewan buas disana, dll. Tiket untuk masuk adalah Rp 10.000 karena kami akan bermalam. Setelah itu kami diperintahkan Kang Braja untuk bergegas hiking, hiking kali ini berbeda jauh dari hiking yang pertama karena hiking disini banyak sekali tanjakan sampai-sampai teman saya ada yang tertinggal jauh di belakang.

Istirahat 2

Setelah tanjakan selesai kami beristirahat di perempatan, kami pun beristirahat di warung yang ada di perempatan itu, tak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan, sekarang kami melalui jalan yang menurun dan berbatu-batu, selanjutnya kami melewati jalur offroad untuk jeep yang berlumpur, disana saya dan beberapa teman saya terjatuh ke dalam lumpur dan sepatu kami pun ikut terkena lumpur beserta kaos kakinya, menurut saya ini adalah bagian yang mengasyikan di hari pertama, setelah selesai di jalur offroad kami melanjutkan lagi di jalur tanjakan yang berlumpur, semua teman saya terkena lumpur kecuali saya dan Agfa karena kami memotong jalan yang lain. Nah, setelah itu Kang Raihan berkata, “Sebentar lagi bakal nyampe ini mah.”, Agfa pun menjawab, “Ah bohong”, nah tak lama kemudian kita sampai di lokasi tempat membangun tenda, di dekat bunker Belanda, kami akan membangun tenda dan tak disangka kami menyewa tenda yang tanpa tongkat, jadi kami harus pindah tempat membangun tenda, tetapi tidak terlalu jauh, kami membangun tenda memakai tali tambang yang diikatkan ke batang pohon, ada tenda putra dan putri, setelah itu waktu sudah menunjukan pukul 17:00 dan kami belum shalat ashar, yang putri sudah shalat karena shalatnya di jama’ sewaktu di Masjid Raya Lembang, kami pun bergegas salat ashar yang diimami oleh saya sendiri kami bertayamum karena tidak ada air untuk berwudhu. Setelah selesai salat ashar kami beristirahat sejenak dan saat sekitar pukul 17:30 kami mendengar peluit dari Kang Braja dan perwakilan dari putra dan putri bergegas ke tempat peluit itu berbunyi. Kami dijelaskan oleh Kang Braja agar tidak menyorot senter ke arah atas karena akan mengundang hal-hal yang tidak diinginkan, dan jika hujan tidak terlalu deras akan diadakan acara malam. Setelah itu kami menyalakan lilin di setiap sudut dan berbagi tugas jaga malam. Pada saat pukul menunjukkan maghrib kami menunaikan shalat maghrib, setelah itu mulai berjaga malam. Saat pada waktu isya kami pun bergegas salat isya.

Hujan gerimis pun datang, tak lama kemudian Kang Braja dan Kang Raihan datang ke tempat tenda kami, dan kami pun mengadakan acara malam di bunker Belanda, disana kami bertanya-jawab, menyanyikan lagu kelana rimba, dan berdiskusi. Setelah selesai kami kembali ke tenda masing-masing. Pada saat masuk tenda, tenda yang putra bocor sampai banjir karena hujan yang deras, kami pun langsung berlari ke tenda putri untuk mengungsi, pada saat mengungsi salah satu teman saya Ashila menghubungi Kang Braja memberi kabar bahwa tenda putra bocor sampai kebanjiran, tak lama kemudian hujan mulai reda dan Kang Braja beserta Kang Raihan datang untuk menjemput kami. Kang Raihan menyuruh Agfa untuk ikut Kang Raihan membawa air dan menjemput Kang Dega. Kami semua kecuali Agfa diperintahkan untuk berkemas barang kembali dan pindah ke bunker Belanda agar dapat tidur.

Di bunker Belanda, saya dan rekan melanjutkan jaga malam, pada saat untuk berganti shift kami mebangunkan Farhan dan Raqi untuk berjaga malam tetapi keduanya tidak terbangun saya dan rekan saya (Farrel) terpaksa melanjutkan berjaga malam, pada saat pukul 01:00 Agfa, Kang Raihan, dan Kang Dega dating. Kami melanjutkan tugas jaga malam dengan Agfa dan Kang Raihan, pada saat pukul menunjukkan jam 02:00 saya pun meminta izin untuk tidur pada Kang Raihan, saya pun tertidur tetapi terbangun pukul 04:00. Saya dan rekan saya membuat api untuk menghangatkan tubuh, waktu sudah menunjukkan pukul 04:30, kami pun langsung menunaikan shalat subuh dan setelah itu membuat sarapan. Sesudahnya kami membongkar kembali tenda yang kebanjiran semalam dan bergegas untuk ke perempatan untuk perjalanan pulang. Kami dilepas oleh Kang Braja, dan dipimpin oleh Agfa karena ia tahu jalan pintas ke perempatan karena semalam menemani Kang Raihan. Beberapa lama kami sudah sampai di perempatan dan beristirahat disana. Tak lama kemudian, Kang Braja, Kang Raihan, dan Kang Dega dating, mereka memerintahkan kami untuk meninggalkan tas di warung perempatan itu. Setelah itu kami diperintahkan untuk mengikuti Kang Raihan, tak lama kemudian kami bersama-sama mengambil foto-foto di dekat daerah itu, kami mengambil foto pemandangan, tenda yang dibuat dari bahan daun dan kayu (bivoak alam), kuda, jembatan biru, dll. Setelah itu kami bergegas untuk kembali ke Kang Braja untuk melaporkan tugas yang kami selesaikan.

Istirahat 1

Kemudian kami bergegas untuk kembali ke gerbang Jayagiri, ternyata tak terasa bahwa perjalanan pulang lebih cepat daripada perjalanan pada saat pergi. Sesampainya di gerbang Jayagiri kami diperintahkan untuk mengambil foto di Taman Djunghun dan sumur bersejarah. Pada saat perjalanan pulang kami melihat kiri kanan tetapi tak menemukan sumur yang bersejarah itu, kami pun terpaksa ke Taman Djunghun terlebih dahulu karena hujan sudah mulai deras. Setelah kami berfoto-foto disana kami bergegas kembali untuk turun melanjutkan perjalanan. Kami mampir di Masjid Raya Lembang, di sana kami mengganti baju kami yang kotor, beberapa saat kemudian Kang Braja datang memberitahu bagaimana cara pulang ke pangkalan dari sini. Setelah itu Kang Braja pulang dan melepas kami.

Adzan dzuhur pun berkumandang, kami menunaikan shalat dzuhur dan bersiap-siap pulang ke pangkalan SMPN 13 lagi. Kami menggunakan angkot St.Hall-Lembang untuk mencapai terminal Ledeng, pada saat perjalanan di Lembang jalanan macet total kami pun memotong jalan dengan harga tarif yang naik, walaupun sudah memotong jalan tetap saja di sana macet total, kami pun memutuskan untuk menunggu, setelah beberapa lama kemudian kami sudah sampai ke terminal Ledeng dengan tarif Rp 7.000, kemudian kami menaiki angkot Kalapa-Ledeng sampai ke Karapitan, dengan tarif Rp 5.000, dan kami menaiki angkot Kalapa-Cicaheum (via Binong), agar tidak berjalan kaki dari Karapitan, setelah sampai di pangkalan semua bubar dan pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Kami datang ke pangkalan agak terlambat karena macet total di Lembang. Nah, begitulah kisah kami pada saat persami di Jayagiri!

Ditulis oleh: Muhammad Fauzan, Pemimpin Regu Elang

Gerakan Pramuka Gugusdepan Kota Bandung 13007-13008 Panduputra-Nagagini Pangkalan SMP Negeri 13 Bandung.

Tagged with: , , ,
Ditulis dalam Kegiatan, Pasukan Christina Martha Tijahahu, Pasukan Sam Ratulangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sekali Memandu! Tetap Memandu!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

Arsip
Kategori
%d blogger menyukai ini: