Salam Semangat Dari PAPANDAYAN!

 

Waktu Perjalanan : Jumat, 18 April 2014 Pk.05.00 WIB – Minggu, 20 April 2014 Pk. 23.00 WIB
Rute Perjalanan : Rumah Biyya, Bandung-Cibatarua, Pangalengan-Tegal Panjang-Pondok Saladah-Hutan Mati-Tegal Alun-Hutan Mati-Pondok Saladah-Camp David-Cisurupan, Garut-Bandung
Pimpinan Perjalanan : Muhammad Raihan
Peralatan : Dega Damara
Konsumsi : M. Prima Sakti
Kesehatan : Widyarina Ramadhani
Estimasi Biaya : Transportasi dan Akomodasi

  1. Angkot Tegalega-Banjaran Rp 150.000,-/mobil
  2. Omprengan Term. Pangalengan-Desa Cibatarua Rp 175.000,-/mobil
  3. Colt Buntung Rp 35.000,-/Orang
  4. Bus Garut-Bandung Ekonomi AC Rp 30.000,-/Orang
  5. Angkot Cijerah-Ciwastra
  6. Camp Pondok Saladah Rp 4.000,-/Orang

Perbekalan Makanan

Rp 70.000,-/Orang

Pukul 16.00 WIB, H-13 jam menuju waktu berkumpul, saatnya bersiap di halte UI menunggu bus MGI yang akan membawaku (Vidha) kembali ke tanah permainanku. Tepat tanggal 18 April 2014 yang bertepatan dengan “Good Friday” umat kristiani, kegiatan yang sudah dipersiapkan dari 3 minggu sebelumnya akhirnya dapat terlaksana dengan rute perjalanan yang cukup menantang. Pukul 05.30 WIB sudah terlambat 30 menit dari waktu berkumpul seharusnya, saya merupakan orang terakhir yang datang. Seluruh anggota perjalanan sudah berkumpul (di rumah Biyya) dan sudah mulai melakukan packing. Packing selesai pukul 08.30 WIB, Pimpinan perjalanan (Raihan) kali ini bersama Prima segera mencari angkot Tegalega-Banjaran untuk mengantar kami ber-8 menuju Terminal Pangalengan.

Kami berangkat dari rumah Biyya tepat pukul 09.00 WIB setelah seluruh barang  masuk kedalam carrier. Rencana yang sedikit terulur karena proses packing yang memakan waktu lama membuat kami seperti berpacu dengan waktu untuk memburu waktu Shalat Jumat di tempat start perjalanan pertama, Desa Cibatarua. Setelah kami ber-8 menyewa angkot Tegalega-Banjaran dan sampai di Terminal Pangalengan, kami melanjutkan perjalanan menggunakan omprengan(angkutan desa) yang sudah kami sewa untuk membawa kami ber-8 sampai ke desa Cibatarua. Perjalanan menuju desa tersebut penuh dengan hamparan hijau kebun teh dan melewati banyak desa lainnya. Jalanan yang dilewati bergelombang, sedikit membuat mabuk kendaraan (pusing, perut bergejolak, mual, dan sulit tidur). Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB ketika akhirnya kami tiba di desa tujuan kami, desa Cibatarua, saatnya Shalat Jumat untuk para Panduputra. Kami membagi tugas, untuk putri makan dan istirahat terlebih dahulu saat yang putra Jumatan, dan setelahnya putra makan siang dan putrinya shalat.

Perjalanan dimulai!

Setelah semua selesai shalat dan makan siang, kami packing dan bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Nah kali ini benar-benar berjalan! Waktu menunjukan pukul 14.00 WIB saat istirahat dan persiapan ulang telah selesai, kami lanjutkan dengan berdoa bersama daaaannn mulai berjalan.

Sebelumnya Prima sudah bertanya dengan warga sekitar mengenai track pertama kami, yaitu Tegal Panjang. Menurut warga sekitar dan dengan bantuan peta kontur yang tersedia, kami bersama the golden compass mengarungi kebun teh dengan arah yang menenggara. Perjalanan dimulai dengan cuaca yang berubah-ubah dan perbekalan yang sudah disiapkan dengan baik. Interupsi perjalanan dimulai saat salah satu dari kami, Yatri, mengalami kelelahan lutut. Yatri yang baru 2 minggu sebelumnya hiking dan mengalami cedera pada lutut akhirnya bisa tetap melanjutkan perjalanan super kali ini. Interupsi kedua terjadi ketika kami kebingungan memilih jalan berbelok.  Terputuskan arah kirilah yang harus kami lalui. Tidak sampai 5 menit perjalanan, kami di hadang sebuah motor pembawa pupuk kompos. Usut punya usut ternyata motor pembawa kompos tersebut terjebak di lekukan jalan kecil bertanah basah karena rantai motor putus. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat desa Cibatarua untuk melapisi ban motor dengan rantai agar mudah menanjak di jalan bertanah basah dan mencegah selip terjadi. Melihat kejadian ini kami sebagai seorang pandu tidak tinggal diam, dengan sedikit bantuan, motor dapat segera menanjak dan kembali berpetualang melaksanakan tugasnya. Dalam aksi menolong tadi, terjadi perbincangan kecil mengenai tujuan kami dan mengapa rute tersebut yang kami pilih. Alhasil kami mendapat petunjuk dari pengendara motor tersebut bahwa benar bisa melalui jalan tersebut untuk menempuh Tegal Panjang hanya saja jalan yang akan kami hadapi akan jauh dari kata biasa atau bisa kita sebut ekstrem. Setelah mendengar penjelasan beliau, kami putuskan untuk memutar balik langkah kami untuk menempuh jalan yang lain. Satu hal yang kami pelajari saat itu, kami melewati jalan itu sudah ditakdirkan untuk mengamalkan Dasa Dharma ke-5.

Setelah kejadian sebelumnya, kami berbekal kompas dan peta kontur menyusuri jalan serta sesuai petunjuk warga yang mulai jarang terlihat. Pada sebuah persimpangan jalan, salah satu dari kami (Kang Braja) turun untuk menanyakan arah perjalanan saat melihat sebuah rumah yang terlihat berpenghuni. Kami mengikuti turun, ternyata tidak ada penghuninya sama sekali akhirnya yang baru setengah perjalanan menanjak kembali sedangkan yang sudah sampai di bawah harus usaha lebih untuk naik. Saat naik itulah salah satu dari kami jatuh dan melukai tangan Kang Braja. Akhirnya kami bisa sampai di atas kembali dan melanjutkan perjalanan.

Perjalanan yang memakan waktu lama ini membuat tenaga kami terkuras banyak. Malam pun tiba. Setiap mendengar suara desiran air kami selalu berharap tempat tujuan kami sudah dekat. Namun angan hanya tetap angan, sampai akhirnya suara sesuatu jatuh ke dalam air mengagetkan kami. Ternyata Prima jatuh ke sungai yang tidak terlalu dalam, hanya saja massa Prima yang agak berat membuat proses penarikan memerlukan tenaga ekstra. Alhasil ketika kembali menjejak tanah yang sama seluruh baju Prima basah kuyup namun Prima menyanggupi untuk tetap berjalan dalam keadaan basah karena waktu yang sudah malam dan gelap.

Perjalanan kembali berlanjut, rasanya jalanan tidak berujung. Kaki sudah begitu kebal terhadap rasa apapun, bahkan rasa dingin karena jalanan becek yang selalu membuat sepatu terendam. Bukan hanya rasa lelah yang mengendalikan, tetapi rasa ingin cepat sampai lah yang membuat kami masih begitu berirama menjejakkan kaki. Sampai saat Kang Braja menemukan sebuah petunjuk jalan menuju Tegal Panjang dengan arah berlawanan dari arah yang kami tempuh. Akhirnya Kang Braja dan Dega memeriksa jalan sesuai petunjuk tersebut sedangkan kami beristirahat sejenak. Beberapa saat kemudian kami melihat cahaya dari arah berlawanan kami datang, ternyata itu cahaya senter Kang Braja dan Dega yang muncul dari arah yang lain. Sepertinya mereka memilih jalan yang membawa mereka memutar ke tempat kami beristirahat.

Perjalanan dilanjutkan dengan memilih rute kembali dan berbelok di belokan yang berbeda dengan yang sebelumnya telah di lalui. Lalu diputuskan, jika pada pukul 22.00 WIB masih belum terlihat tanda-tanda Tegal Panjang, kami akan menggelar tenda di tengah hutan untuk beristirahat. Rencana tersebut ternyata bukan hanya wacana, dengan sangat terpaksa kami menggelar tenda malam pertama kami di tengah jalan yang lumayan datar namun sempit. Panduputra memasang 2 tenda untuk kami bermalam sedangkan Nagagini memasak spageti untuk makan malam dengan teh gula merah hangat. Waktu menunjukkan pukul 00.00 WIB, Malam ditutup dengan berganti pakaian, Shalat Magrib – Isya yang di jama, dan segera beranjak tidur dalam keadaan harus super kering.

Keesokan paginya, Sabtu 19 April 2014, terbangun pukul 06.00 WIB melakukan Shalat Subuh dan membuat sarapan. Menu pagi ini adalah Nasi dengan tempe goreng dan tumis kangkung pedas. Selama sarapan berlangsung banyak pendaki mulai berlalu lalang. Rasanya sedikit malu menggelar tenda di tengah jalan tersebut, tapi apa daya kondisi yang memaksa. Setelah selesai sarapan, packing dan perobohan tenda dilakukan. Selesai semua persiapan untuk kembali kami melanjutkan perjalanan menuju Tegal Panjang.

Tegal Panjang itu dekat! diukur dari tempat bermalam. Dengan semua interupsi yang terjadi selama perjalan menuju Tegal Panjang akhirnya kami sampai pukul 11.00 WIB di hamparan luas rumput dan ilalang. Mencari tempat datar yang luas dan disinari matahari, kami letakkan ransel dan segera menjemur apa-apa yang basah dan bisa dikeringkan. Setelah selesai menjemur, segera kami buka perbekalan untuk membuat menu makan siang yaitu Nasi, Bakwan yang tidak bisa menggumpal, Gepuk, Capcay dengan 2 versi, dan ditemani aquades. Sebelum makan siang, kami Shalat Dzuhur dan Ashar yang di jama berjamaah. Proses makan siang dan shalat selesai, dilanjutkan packing dan persiapan perjalanan. Tidak lupa kami berfoto karena hanya kenangan lah yang bisa dibawa pulang.

Pukul 13.00 WIB persiapan keberangkatan dan berdoa bersama demi keselamatan sampai ditujuan. Tepat pukul 14.00 WIB perjalanan kembali dimulai untuk destinasi selanjutnya, Pondok Saladah. Perjalanan kali ini memakan waktu 3 Jam sesuai prakiraan. Selama perjalanan tidak ada kejadian berarti selain perjalanan dengan formasi yang tetap (Prima-Mila-Widyarina-Vidha-Widyatri-Raihan-Dega-Kang Braja). Rasa dingin mulai terasa akibat kabut tebal turun. Sudah mulai bermunculan tenda-tenda pendaki yang menandakan destinasi semakin dekat. Tepat pukul 17.00 WIB kami sampai di camp Pondok Saladah yang begitu ramai pengunjung eh pendaki. Penuhnya Pondok Saladah seperti sedang ada acara besar sedang berlangsung, mungkin dikarenakan akhir minggu libur panjang.

Pembagian tugas kembali dilakukan, Panduputra mendirikan tenda sedangkan Nagagini memasak air teh manis hangat untuk kami semua. Setelah mendirikan kedua tenda dan menambal beberapa bagian tenda perjuangan yang telah dimakan usia, kami berganti pakaian dan Shalat Magrib dan Isya. Selesai shalat, panduputra menunggu makan malam tersaji dari dalam tenda perjuangan. Nagagini memasak makan malam di dalam halaman tenda yang kecil. Menu malam ini adalah Spageti dengan Apel dan Coklat. Selesai makan tibalah waktu istirahat, sebelumnya sudah dibagi 4 bagian korve malam untuk setiap tenda. Korve kali ini berlangsung selama 1’ 30’’ tiap orangnya dimulai pukul 22.00-04.00 WIB. Giliran korve untuk tenda Panduputra adalah Prima → Kang Braja → Dega → Raihan, sedangkan untuk tenda Nagagini adalah Mila → Rina → Vidha → Yatri.

Minggu, 20 April 2014, Pukul 05.00 dini hari kami terbangun dan kedinginan. Berwudhu di sumber air super dingin membuat badan menjadi lebih kebal terhadap hawa dingin pagi ini. Shalat Subuh di bawah langit berawan yang sudah menerang. Menu sarapan pagi yaitu Nasi, Tumis caisem dengan sosis dan bakso, Bakwan tak berbentuk, dan Sarden sudah menunggu untuk dihidangkan. Setelah sarapan, kami ber-8 segera ber-packing untuk kembali melanjutkan perjalanan selanjutnya. Interupsi terjadi saat salah dua dari kami mendapat panggilan alam. Sambil menunggu, packing tetap dilakukan.

Tepat pukul 10.00 WIB perjalanan kembali dilanjutkan sesaat setelah berfoto bersama di camp Pondok Saladah. Destinasi selanjutnya adalah Tegal Alun yang diselimuti oleh bukit edelweiss. Perjalanan menuju Tegal Alun melalui Hutan Mati, jadi sekali mendayung 2 tempat terjamah. Perjalanan yang menanjak tidak menyurutkan semangat kami untuk segera sampai di padang edelweiss yang begitu dinanti. Selama perjalanan kami berpapasan dengan banyak orang yang akan turun, dalam proses papasan tersebut decak kagum selalu terdengar untuk kami spesial untuk Yatri, Si mungil cabe rawit, karena membawa carrier se-macho pendaki berpengalaman.

Sesampainya di hutan mati kami berfoto dan terus melanjutkan perjalanan. Jalan yang menanjak lagi-lagi menghabisi tenaga kami. Tak ada kompromi untuk bisa melihat padang edelweiss. Semua rasa lelah terbayar sesampainya kami semua di hamparan luas padang edelweiss. Padang dengan bergunung-gunung bunga edelweiss yang dilindungi men-charge kembali semangat kami. Petikan sekecil apapun dilarang, yang kami bisa bawa hanya potongan kenangan yang diabadikan. Setelah berfoto dan beristirahat sejenak, kami putuskan untuk kembali turun karena kabut yang mulai menyelimuti. Antisipasi hujan pun sudah diperkirakan karena akan membuat track perjalanan menjadi licin dan lebih sulit dilalui. Perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat, itulah kalimat yang selalu diucapkan acap kali sebuah perjalanan di dokumentasikan. Pukul 13.00 WIB diperkirakan telah sampai kembali di camp Pondok Saladah.

Tegal Alun

Tegal Alun

Dari Camp Pondok Saladah perjalanan dilanjutkan langsung turun menuju Camp David. Melewati jalan menurun yang terjal akhirnya kami sampai di hamparan kawah sisa letusan gunung papandayan 2002 lalu. Perjalanan menurun dan berbatu memiliki kesulitan tersendiri bagi masing-masing dari kami. Sampai pada suatu saat ketika salah satu dari kami mulai surut semangatnya. Disitulah kami sebagai satu tim, bahu membahu untuk membantu dan membuat perjalanan ini tetap berlangsung. Alhasil kami sampai di Camp David sekitar pukul 15.00 WIB dengan cuaca yang mulai mendung. Shalat Dzuhur dan Ashar yang lagi-lagi di jama telah dilakukan.

Saatnya mencari akomodasi untuk pulang!

Cukup lama kami menunggu giliran mendapatkan kendaraan pulang. Sambil menunggu, kami mengisi perut kami dengan bekal bawaan yang telah dipersiapkan pagi tadi (hidup dendeng!). Pukul 17.00 WIB akhirnya kami mendapatkan colt buntung untuk turun ke Garut. Perjalanan menaiki colt buntung bukan hal yang buruk mengingat sebentar lagi kami akan kembali ke kasur yang nyaman dirumah. Tepat pukul 19.00 WIB kami sampai di Terminal Guntur, Garut. Menggunakan Bus Garut-Bandung kami tiba di Terminal Leuwi Panjang sekitar pukul 21.30 WIB. Yatri dan Mila di jemput langsung di Terminal. Raihan yang rumahnya dekat dengan terminal menemani kami sampai kami menaiki angkot Ciwastra-Cijerah, lalu pulang berjalan kaki. Saya dan Dega kembali ke Rumah Biyya untuk mengambil barang yang dititipkan hari jumat lalu, sedangkan Kang Braja, Rina, dan Prima melanjutkan perjalanan menggunakan angkot sampai rumah masing-masing.

Perjalanan panjang ini tidak akan terlupakan, walaupun hanya cerita dan kenangan terabadikan yang kami bawa, kami percaya suatu saat nanti inilah yang kami kenang.

Quote selama perjalanan berlangsung: “Allah mah Maha Uninga.”

 

Selalu semangat berjuang untuk mencapai puncak!

Be Prepared!

Setia-Siap-Sedia

Ditulis oleh: @jvthaashaar

Gerakan Pramuka Gugusdepan Kota Bandung 13007-13008 Panduputra-Nagagini Pangkalan SMP Negeri 13 Bandung.

Tagged with: , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Ambalan Nagagini, Ambalan Panduputra, Pengembaraan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sekali Memandu! Tetap Memandu!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

Arsip
Kategori
%d blogger menyukai ini: