Bersepeda Menuju Dago Pakar

Minggu, 5 Januari 2014 Gugus Depan KB 13007 menyelenggarakan kegiatan bersepeda untuk mengisi waktu luang para penggalang. Sayangnya, hanya sedikit penggalang yang mengikuti kegiatan ini. Kegiatan ini diikuti oleh 2 penggalang putra (Ilham & Rifqi), 2 tamu penegak putra (saya & Farhayn), dan 1 pembina penggalang putra (Kang Braja). Rute yang akan ditempuh adalah Sanggar – Terminal Dago – Dago Pakar – Maribaya – Lembang – Ledeng – Sanggar.

Saya tiba di sanggar jam 7 pagi, ketika tiba di gerbang saya bertemu dengan Kang Raihan dan adiknya. Kang Raihan berkata akan langsung menuju Dago Pakar dan akan menunggu kami di sana. Setelah Kang Raihan pergi, saya pun memeriksa keadaan sepeda saya yang sudah menginap di sanggar selama semalam. Setelah kami berkumpul, Kang Braja yang tidak membawa sepeda pun bermaksud untuk meminjam sepeda. Maka, saya dan Ilham datang ke rumah Aji untuk meminjam sepedanya.

Setelah semua siap, Ilham mengontak teman-teman G8 & G9 untuk memastikan keikutsertaan mereka. Ternyata, Rifqi ingin ikut dan akhirnya Ilham menjemput ke rumahnya. Karena Ilham dan Rifqi lama, Kang Braja pun memutuskan agar kami semua langsung berkumpul di Terminal Dago. Saya, Farhayn, dan Kang Braja pun pergi melewati Jl. Buahbatu.

Setelah melewati Jl. Belitung, kami (saya & Farhayn) terpisah dengan Kang Braja. Kami pun memutuskan berhenti sejenak untuk menunggu Kang Braja. Beberapa saat kemudian, lewat lah Ilham dan Rifqi yang berangkat dari rumah Rifqi. Kami pun menyuruh mereka berdua untuk meneruskan perjalanan sampai Terminal Dago. Karena Kang Braja tidak kunjung muncul, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Terminal Dago.

Setelah tiba di Terminal Dago, Kang Braja memberi kabar bahwa kakinya kram dan tidak dapat melanjutkan perjalanan. Farhayn pun diminta pulang karena ada saudaranya yang datang. Akhirnya kami hanya bertiga melanjutkan perjalanan menuju Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Di perjalanan, kami bertemu dengan Kang Adit yang menenteng sepedanya bersama dengan seorang perempuan yang saya tidak tahu itu siapa. Kami masuk ke THR Djuanda melalui pos II dengan biaya Rp. 39.000 (3 orang @Rp. 13.000).

Kami menyusuri jalan dari pos tersebut menuju ke Goa Belanda. Kami pun berkesempatan untuk masuk ke dalam Goa Belanda dan pergi ke sisi yang satunya. Setelah itu, kami menyusuri jalan menuju Curug Omas, Maribaya. Selama di perjalanan, saya memperhatikan bahwa THR Djuanda ini telah banyak mengalami perubahan dibandingkan ketika saya melakukan Perjalanan Malam saat penggalang. Seperti pedagang yang sudah mulai banyak, tempat-tempat duduk yang sudah ditempatkan di beberapa titik, hingga tukang ojek yang siap mengantar wisatawan ke berbagai tempat di THR Djuanda. Akhirnya kami tiba di Curug Omas dan beristirahat sebentar di sana. Karena waktu menunjukan pukul 12.00, saya pun mengajak Ilham dan Rifqi untuk shalat dzuhur di masjid yang berada di gerbang keluar Maribaya. Saya pergi terlebih dahulu karena sudah tidak tahan ingin buang air kecil.

Setelah saya selesai buang air kecil yang dilanjutkan dengan shalat dzuhur, saya belum juga melihat Ilham dan Rifqi keluar dari gerbang Maribaya. Setelah menunggu agak lama, mereka belum juga muncul. Saya berpikir mungkin mereka sudah menuju ke persimpangan menuju Ledeng. Ketika saya sampai di persimpangan pun, tidak ada tanda-tanda kehadiran mereka. Karena pulsa saya tidak mencukupi untuk melakukan panggilan, saya tidak bisa menghubungi mereka. Saya pun dengan rasa gelisah melanjutkan perjalanan hingga Ledeng, dimana saya menemukan penjual pulsa. Saya mencoba untuk menghubungi mereka, tetapi tetap tidak bisa dilakukan. Saya akhirnya menghubungi Kang Braja untuk memberitahukan keadaan tersebut. Karena badan saya sudah lelah, saya memutuskan untuk langsung menuju ke sanggar.

Setelah tiba di sanggar, saya langsung beristirahat sementara Kang Braja terus mencoba untuk menghubungi mereka berdua. Ternyata ketika pukul 15.01, Ilham sempat memberi pesan bahwa mereka sudah ada di Terminal Dago. Pukul 15.30, mereka pun tiba di sanggar dengan selamat. Ternyata, alasan mengapa saya tidak kunjung bertemu dengan mereka di gerbang keluar Maribaya karena mereka memilih untuk makan terlebih dahulu di warung yang ada di Curug Omas. Dan mereka juga salah mengambil rute pulang. Rute yang mereka ambil adalah Maribaya – Dago Bengkok – Terminal Dago – Sanggar. Rute yang benar adalah yang saya lalui, yaitu Maribaya – Lembang – Ledeng – Setiabudi – Sanggar. Meskipun begitu, pada akhirnya semua bisa tiba di sanggar dengan selamat.

Ditulis oleh Tamu Penegak Gugus Depan KB 13007

Mochamad Primasakti Satyagraha – @IvanKozlov97

Gerakan Pramuka Gugusdepan Kota Bandung 13007-13008 Panduputra-Nagagini Pangkalan SMP Negeri 13 Bandung.

Tagged with: , , , ,
Ditulis dalam Ambalan Panduputra, Bersepeda, Pasukan Sam Ratulangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sekali Memandu! Tetap Memandu!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

Arsip
Kategori
%d blogger menyukai ini: