DECEMBER MONTHLY EVENT! – PANGALENGAN TRIP

Makam Bosscha

Makam Bosscha

Tanggal 24 Desember 2013, tepatnya hari Rabu sebelum Natal, Ambalan kami yaitu Panduputra-Nagagini melaksanakan kegiatan latihan ke luar pangkalan sebulan sekali. Latihan kali ini kami isi dengan kunjungan ke Perkebunan Teh Malabar dan Situ Cileunca.

Sesuai dengan apa yang telah didiskusikan sebelumnya, kami berkumpul di sanggar sekitar pukul 7 pagi. Sembari menunggu anggota geng yang lain, kami mengecek barang-barang agar tidak ada yang tertinggal. Ternyata setelah beberapa saat menunggu, dua anggota tidak kunjung datang. Febryan alias Ncep dan Farhayn tidak memberikan kepastian bahwasannya mereka akan ikut serta dalam latihan bulanan kali ini. Akhirnya kami semua (Kang Raihan, Kang Dega, Aji, Prima, Wiwid, Mila dan Abiyya) pun meninggalkan sanggar dan bergerak menuju tempat yang dituju. Sebelum menempuh perjalanan yang bisa dibilang jauh ini, kami mengisi bahan bakar motor di SPBU terdekat tepatnya di Jl. Moh.Ramdan. Perjalanan pun dimulai.

Kami mengambil rute melewati Leuwi Panjang, Cibaduyut, melewati Soreang dan Pangalengan (nah untuk rute sih saya gak terlalu hafal karena saya hanya mengikuti yang berada di paling depan hahaha). Ada 4 motor b**t berjalan beriringan. Yang mengendarainya adalah Kang Raihan, Kang Dega, Aji, dan saya (Wiwid). Sementara Mila dibonceng oleh Kang Dega, Prima dibonceng bergantian (oleh Aji dan Kang Raihan), dan Biyya dibonceng oleh saya.

Jalan yang berliku-liku dan menanjak menyambut kami saat kami sampai di daerah pangalengan. Jujur, itu adalah pengalaman pertama saya mengendarai motor melalui rute yang bisa dibilang sangat ekstrim untuk seorang amatir seperti saya. Tapi Alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan yang lama dan melelahkan, kami pun sampai di Perkebunan Teh Malabar. Begitu indah pemandangan yang disajikan oleh alam. Kebun teh yang menghampar begitu luasnya bagaikan permadani di kaki langit (nyanyi ceritanya). Sungguh berbeda dengan pemandangan kota Bandung yang penuh dengan bangunan-bangunan dan hanya ada sedikit warna hijau (walaupun saat ini nampaknya Bapak Walikota sedang berusaha keras untuk mengembalikan Bandung seperti sedia kala yakni Bandung Kota Kembang).

Karena sepertinya begitu banyak Oksigen yang dihasilkan di tempat tersebut, udara pun terasa lebih segar. Kami pun segera mencari petunjuk untuk menuju ke Makam Bosscha. Ya Bosscha yang biasa kalian dengar. Observatorium Bosscha merupakan salah satu tempat yang pembangunannya disponsori oleh Bosscha. Tak hanya Obsevatorium, ITB bahkan Gedung Asia-Afrika yang terdapat di jalan Asia Afrika pun ia sponsori. Masyarakat di daerah kebun teh ini pun terlihat begitu mengagumi sosok Bosscha yang menurut mereka adalah seorang Bujang yang sangat rendah hati, penyayang binatang dan juga peduli terhadap masyarakat yang membutuhkan. Dulu ia mendirikan Sekolah Rakyat yang saat ini telah menjadi SD Malabar 4.

Kami pun akhirnya menemui Makam Bosscha setelah beberapa kali berkeliling kebun teh. Makam ini dikelilingi oleh taman yang asri dan bersih. Terdapat berbagai macam bunga dan tanaman di dalamnya. Di tengah-tengah taman terdapat sebuah bangunan putih yang memiliki 8 tiang kokoh menopang atapnya yang berbentuk kubah. Ya disitulah peristirahatan terakhir Bosscha. Disamping bangunan itu terdapat 2 bangku yang saling berhadapan di masing-masing sisi. Kedua bangku itu memiliki ketinggian yang berbeda. Kata Pak Upir (sumber yang merupakan penjaga Makam Bosscha), bangku yang lebih tinggi itu diduduki oleh Bosscha sedangkan kursi yang berada di sisi lain itu diduduki oleh pacarnya hehehe.

Pak Upir bercerita tentang kekaguman masyarakat terhadap Bosscha karena jasa-jasanya dan kepeduliannya terhadap kaum yang membutuhkan. Di mata kita mungkin orang Belanda adalah kaum penjajah dan penindas. Tetapi nampaknya untuk yang satu ini, tidak ada kata yang bisa mendeskripsikan Bosscha kecuali peduli, rendah hati, dan gigih.

Mencari Kunci Motor

Mencari Kunci Motor

Pak Upir pun menutup perbincangan kami dengan sebuah pantun. Ya walaupun sedikit tidak jelas tapi kami pun terhanyut dalam gelak tawa. Pak Upir juga menyertakan sebuah brosur yang berisikan gambar Rumah Bosscha beserta villa-villa yang disewakan di Perkebunan Teh Malabar. Saat ini perkebunan teh telah diambil alih PTP Nusantara VIII. Sebelum berangkat ke Rumah Bosscha, kami menyempatkan diri untuk berfoto di kebun teh. Setelah keasyikan berfoto, ternyata kunci motor Kang Dega hilang. Mungkin karena terlalu bersemangat saat sesi foto, kuncinya terlempar dari saku jaket Kang Dega. Para pekerja yang saat itu sedang beristirahat pun ikut turun ke kebun teh untuk membantu kami. Setelah sekitar 15 menit mencari tanpa henti, seorang ibu pekerja berteriak sambil memegang kunci motor. Kang Dega pun terlihat lega karena sebelumnya wajah Kang Dega agak panik karena para pekerja sempat mengatakan bahwa terkadang suka ada yang “menyembunyikan” barang para pengunjung. Sebagai rasa terima kasih kami pun memberikan sedikit uang kami untuk para pekerja.

Didorong oleh rasa penasaran, kami pun bergerak menuju tempat selanjutnya yaitu Rumah Bosscha. Rumah ini sangat berarsitektur Belanda. Jendela-jendela besar, perapian, taman yang sangat luas merupakan beberapa ciri khas yang menonjol dari rumah ini. Dibelakang Rumah terdapat bungalow-bungalow kecil yang disewakan untuk masyarakat jikalau ingin bermalam. Walaupun kami tidak diijinkan masuk kedalam rumah, kami diperbolehkan untuk mengambil beberapa gambar disekitar rumah. Setelah itu, kami pun bersegera menuju ke Mushola untuk sholat Dzuhur.

Rumah Bosscha

Rumah Bosscha

Setelah sholat dzuhur kami pun berbincang sejenak sambil menikmati makanan ringan yang dibawa oleh para anggota. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju ke Situ Cileunca untuk tujuan berikutnya. Hujan gerimis setia menemani perjalanan kami. Jalan pun menjadi licin. Jarak dari Perkebunan menuju Situ Cileunca sekitar 7 km. Yah bisa dibilang dekat.

Tiket masuk Situ Cileunca Rp 5.000/orang (Dewasa). Karena kami menggunakan kendaraan bermotor, motor juga ikut masuk kedalam tagihan tiket kami. Harga tiket per sepeda motor adalah Rp 2.000. Setelah memarkirkan kendaraan, kami pun bergegas menuju ke dekat situ dan memutuskan untuk makan siang bersama di sana. Disekitar situ terdapat warung-warung seperti layaknya obyek wisata di tempat lain. Situ Cileunca saat itu bisa dibilang sangat sepi. Di lapangan parkir hanya terdapat 4 motor milik kami dan mobil pun kurang dari 5 unit. Udara dingin yang menusuk pun tidak menggoyahkan niat kami untuk menikmati pemandangan situ. Ditengah-tengah situ terdapat sebuah pulau kecil. Di sekitar situ juga banyak sekali para pengunjung yang menaiki perahu sambil mengelilingi situ yang asri itu.

panorama

Situ Cileunca

Tiba tiba hujan pun turun dengan deras, kami pun terpaksa berpindah ke saung kecil yang berada di dekat kami. Sambil menunggu hujan berhenti, kami pun mengobrol dan bercanda. Jam sudah menunjukkan angka setengah 5, kami pun harus bergegas pulang karena kalau terlalu sore, jalur menjadi gelap dan licin sehingga menjadi lebih berbahaya.

Diperjalanan pulang, ada kecelakaan kecil yang menimpa saya dan Abiyya. Motor yang kami kendarai jatuh akibat melewati jalan yang licin disertai lubang-lubang. Luka yang diderita Biyya cukup parah sedangkan saya hanya lecet-lecet saja. Biyya sempet berkata bahwa ia merasa pusing dan pandangannya mulai buram dan kunang-kunang. Saya sempat panik dan mencoba menenangkan Biyya. Biyya menyuruh saya untuk menghubungi anggota lain yang sudah berada jauh didepan kami berdua. Mereka pun menunggu kami disebuah SPBU yang berada dipinggir jalan. Saya pun kembali mengendarai motor karena Biyya pada saat itu dalam keadaan tidak mungkin mengendarai kendaraan bermotor.

Luka akibat jatuh

Luka akibat jatuh

Setelah sampai di SPBU, Biyya pun diobati dengan obat merah dan lukanya ditutupi oleh kain kasa. Karena saya takut membonceng Biyya, saya pun meminta Kang Dega untuk membonceng Biyya dan saya membonceng Mila. Kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan pulang melalui rute Banjaran-Moh.Toha-Sanggar.

Di jalan Banjaran, kami sempat terjebak macet diakibatkan pekerja pabrik yang baru saja bubar dan banjir disepanjang jalan. Saat itu sudah terdengar adzan maghrib. Wah saya pun meminta izin kepada Kang Raihan untuk pulang duluan karena saya tidak mau sampai rumah terlalu malam. Dan Alhamdulillah semua anggota sampai dirumah dengan selamat.

RINCIAN BIAYA
Bensin pulang-pergi : Rp 30.000
Tiket Masuk Cileunca : Rp 5.000/orang | Rp 2.000/sepeda motor
Konsumsi : Bawa dari rumah—>gratis🙂

JARAK
Bandung – Pangalengan : ±40 km
Pangalengan – Perkebunan Teh : ±5 km
Pangalengan – Situ cileunca : ±3 km

LAMA PERJALANAN
Bandung – Perkebunan Teh : 1-2 jam
Perkebunan Teh – Situ Cileunca : 30 menit
Perjalanan pulang dari Situ Cileunca menuju Bandung melalui jalur Banjaran – Moh Toha – Buah Batu (karena saat itu terjebak macet dan banjir) waktu tempuhnya menjadi lebih lama yaitu 2,5 jam.

Artikel ditulis oleh Widyatri Pusparini – @wdytr

Gerakan Pramuka Gugusdepan Kota Bandung 13007-13008 Panduputra-Nagagini Pangkalan SMP Negeri 13 Bandung.

Tagged with: , , , , ,
Ditulis dalam Kegiatan
One comment on “DECEMBER MONTHLY EVENT! – PANGALENGAN TRIP
  1. sayang sekali saya ketiduran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sekali Memandu! Tetap Memandu!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

Arsip
Kategori
%d blogger menyukai ini: