Dunia Kepanduan yang Ajaib

Kalau diperhatikan dunia pandu itu mirip dengan dunia penyihir Harry Potter. Dunia pandu itu sebuah dunia yang berbeda, memiliki aturan dan permainan yang berbeda. Sebuah dunia yang persaudaraannya begitu kuat. Para anggotanya disebut sebagai pandu, di Indonesia kita menyebutnya pramuka, dan para pandu itu saling menyapa dengan sebutan adik dan kakak.

Tidak semua anak dapat menjadi seorang pandu, hanya yang terpilih sajalah yang akhirnya dapat ikut masuk kedalam persaudaraan pandu sedunia. Untuk ikut bergabung bukan bakat penyihir yang diperlukan, tapi memiliki jiwa petualang yang menggelora, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta ingin menjadi berguna bagi sesamanya.

Saya bergabung dengan pramuka ketika usia saya 13 tahun, saat itu saya duduk di kelas 2 di SMPN 13 Bandung. Seingat saya, saat itu saya masih lucu dan imut-imut. Memakai seragam putih-biru, rambut belah sisi, berkacamata bulat, kurus kering, tinggi hanya 150 cm, saya pasti tampak seperti seorang kutu buku. Tapi ternyata jiwa pandu yang ada di dalam, tertarik oleh kekuatan magis yang ada di Sanggar Pramuka pangkalan SMPN 13 Bandung.

Dengan malu-malu, ikutlah saya Latihan Sabtu di Sanggar Pramuka. Hari yang akan selalu saya ingat, karena sejak hari itu saya memasuki sebuah dunia yang tidak mungkin saya lupakan. Waktu pertama kali ikut, saya kira saya akan di tes macam-macam, tapi untungnya tidak. Dan untungnya juga saya tidak sendirian, sudah ada teman-teman yang saya kenal ada disana.

Perkenalan singkat dilakukan, Kakak Pembina langsung memutuskan tempat saya. Ia berkata, “Baik adik-adik, perkenalkan nama saya Aswin Heri Wijoyono, panggil saya Kang Aswin, dari seluruh anak-anak di SMPN 13, kalian telah memilih untuk ikut bergabung kedalam persaudaraan pandu, sebuah persaudaraan yang telah ada di seluruh dunia, diciptakan oleh Lord Baden-Powell, Bapak Pandu Dunia. Di SMPN 13 Bandung, terdapat dua gugusdepan, gugusdepan adalah seperti sekolah bagi adik-adik, Gugusdepan 13007 Panduputra khusus untuk kalian yang putra, dan Gugusdepan 13008 Nagagini khusus untuk kalian yang putri. Silakan bagi kalian yang putri agar bergabung dengan Kakak-kakaknya yang putri juga, dan kalian para putra ikut dengan saya.”

Segera saya mengikuti perintahnya, selanjutnya saya bersama dengan teman-teman diperkenalkan dengan keluarga baru, “Ada dua Pasukan di Gugusdepan 13007 Panduputra, yaitu Pasukan Sam Ratulangi dan Pasukan Mohamad Toha. Pasukan adalah kumpulan Regu, adik-adik silakan untuk memilih Regu dan Pasukan yang ada. Setiap Pasukan dan setiap Regu memiliki ciri khas tersendiri, warna, adat, dan bendera tersendiri. Nama Pasukan diambil dari nama para pahlawan yang telah ikut serta membangun negri ini, dan nama Regu diambil dari nama hewan yang sesuai dengan karakter atau sifat adik-adik. Ingat baik-baik, regu dan pasukanmu adalah keluargamu yang baru. Jaga kekompakkannya dan tunjukkan kehebatan dirimu didalam Regu dan Pasukanmu.” Satu persatu kami ditempatkan di keluarga kami yang baru. Saat itu saya bergabung kedalam Regu Bido, Pasukan Mohamad Toha.

Setelah semua memiliki keluarga baru, Kang Aswin kembali berbicara, “Berikut adalah daftar peralatan dan perlengkapan yang harus kalian miliki sebagai seorang Pandu dan Regu: Buku Syarat-syarat Kecakapan Umum, Buku Merah Putih, alat tulis lengkap, kemudian kaos regu, syal pasukan, seragam pramuka lengkap, sepatu hitam, kaos kaki hitam, dan tongkat pramuka. Silakan tanyakan Kakak-kakak kalian di Pasukan masing-masing, kemana harus mencari barang-barang tersebut. Latihan rutin dilaksanakan setiap hari Sabtu pukul 14.00, petunjuk mengenai tempat dan peralatan saat latihan akan diberi tahu sebelumnya, pastikan regu kalian mengetahuinya, jangan sampai tersesat atau ada barang yang tertinggal. Kemudian ingat Sanggar adalah rumahmu yang baru, disana ada Si Aki penjaga Sanggar sejak tahun 1967, jadi jaga sanggar supaya tetap bersih dan rapi, dan jangan berbuat macam-macam. Iuran bulanan adalah Rp 500 per bulan dikumpulkan di Bendahara Pasukan masing-masing. Ada yang ditanyakan?” Serentak kami semua menjawab, “Siap tidak!”

Banyak sekali istilah aneh saat itu, tapi saya diam saja, sambil berharap tidak akan ditanya balik mengenai istilah-istilah tersebut. Dari awal sudah terasa atmosfer persaingan yang kuat, terutama dari Regu Falcon, Pasukan Sam Ratulangi. Tapi saya rasa itu hanya perasaan saya saja.

Langsung saja Latihan Sabtu dimulai. Saya dikenalkan dengan upacara, permainan-permainan dan lagu-lagu. Aneh rasanya, seperti kembali jadi anak SD, tapi ternyata upacara, permainan-permainan dan lagu-lagu tersebut telah membentuk karakter yang baik pada diri para pandu.

Latihan ditutup dengan upacara penurunan bendera dengan bentuk angkare, menyanyikan hymne Satya-Darma Pramuka, dan meneriakkan motto gugusdepan. Hari yang luar biasa, tak sabar rasanya untuk bertemu dengan teman-teman seregu besok di sekolah.

Gugusdepan pramuka sungguh berbeda sekali dengan sekolah, pertama  tidak ada bapak dan ibu, yang ada itu adik dan kakak, kemudian tidak ada nilai 0-10, yang ada hanya lulus atau tidak lulus. Kemudian saat ada masalah kita tidak dipanggil ke ruang BK tapi ke dalam Dewan Kehormatan, saya harap saya tidak akan pernah dipanggil karena bermasalah. Materinya pun aneh-aneh, tidak ada fisika, matematika, biologi, atau bahasa, yang ada itu baris-berbaris, perpetaan, tali-temali, sandi, pertolongan pertama, keterampilan memasak, dan berkemah. Bahkan jika kecakapan umumnya sudah cukup, berhak untuk belajar kecakapan khusus, seperti berenang, bersepeda, diving, aeromodelling, dan banyak lagi.

Pusing rasanya, harus bisa menguasai itu semua. Belum lagi pelajaran di sekolah harus tetap bagus, karena kalau tidak orang tua dirumah pasti marah-marah.

Seperti halnya dunia Harry Potter, di pramuka pun ada gugusdepan-gugusdepan yang lain, kemudian ada Kwartir yang tugasnya seperti Kementrian Sihir, dimana setiap tahunnya menyelenggarakan Latihan Gabungan, Lomba Tingkat dan juga Jambore. Bagi saya kegiatan-kegiatan kepanduan sungguh menarik, ada penjelajahan malam, turun tebing, penyusuran sungai, penyusuran pantai, hiking, berkemah, bersepeda, perang-perangan, dan banyak lagi kegiatan-kegiatan menantang lainnya. Bahkan karena kita adalah bagian dari persaudaraan pandu dunia, kegiatan di luar negeri pun bisa dilakukan.

Latihan demi latihan dilewati, tak terasa usia saya sudah lewat 15 tahun, saya akan selalu ingat saat pertama kali dilantik menjadi seorang anggota pramuka, “Trisatya. Demi kehormatanku, aku berjanji, akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mengamalkan Pancasila. Menolong sesama hidup, dan mempersiapkan diri membangun masyarakat. Menepati Dasadarma.”

Orang lain pasti menganggap kita aneh, saat orang lain malam mingguan, kita berlatih, saat orang lain berlibur ke kampung halaman, kita mendaki gunung atau tengah menyusuri pantai, saat ada bencana orang lain melarikan diri, kita membantu sebisa kita. Mengapa? Karena seorang pandu itu selalu ingat akan Satya dan Darma yang telah ditanam di dalam jiwanya.

Lalu siapa yang jadi Kau-Tahu-Siapa? Siapa Lord Voldemort di dalam dunia pandu? Menurut Baden-Powell ada satu yang sangat kuat, yang saking kuatnya dapat merusak sebuah Negara. Yaitu, sifat mementingkan diri sendiri / egois. Ini adalah akar dari kerusakan, dari egois muncul keinginan untuk menghalalkan segala cara, muncul keinginan untuk membalas dendam, dan muncul keinginan untuk melukai orang lain demi untuk memenuhi kepentingan diri sendiri dan golongannya. Bagaimanakah cara mengalahkannya? Caranya adalah dengan memegang teguh Satya dan Darma Pramuka.

Kini, Sanggar menginjak usianya yang ke-44, begitu banyak pandu yang telah dihasilkannya, begitu banyak kisah yang dapat diceritakan, dan juga begitu kuat persaudaraan yang telah terbentuk. Tidak peduli dimana pun tempat saya berada sekarang atau nanti, persaudaraan itu tidak akan pernah hilang. Selama masih ada seorang anak yang ingin menjadi pandu, maka Sanggar Pramuka Gugusdepan KB 13007-13008 Panduputra-Nagagini akan selalu membuka lebar-lebar pintunya. Insya Allah.

Sekali memandu! Tetap memandu!

Jayalah selalu kepanduan Indonesia!

Gerakan Pramuka Gugusdepan Kota Bandung 13007-13008 Panduputra-Nagagini Pangkalan SMP Negeri 13 Bandung.

Tagged with: , ,
Ditulis dalam Pasukan Christina Martha Tijahahu, Pasukan Sam Ratulangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sekali Memandu! Tetap Memandu!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

Arsip
Kategori
%d blogger menyukai ini: