Ngaliwet!

Latihan Sabtu kali ini diadakan di Kiarapayung, Jatinangor. Temanya belajar membuat ‘nasi liwet’. Berikut tulisan karya Nada, selamat menikmati!

Pagi itu saya dan Nalla pergi bersama(Esti tidak ikut karena kebanjiran, monica jg tidak bisa hadir). Kami sampai di 13 pukul 06.06, terlambat 6 menit dari waktu yang ditentukan. Karena terjebak banjir, dan sebagainya. Ternyata masih ada yang belum datang. Karena sudah cukup lama menunggu dan masih ada juga yang belum datang, upacara pun dimulai pukul 06.19. Saat upacara berlangsung, Widya dan Tio datang.

Kami berbanjar sesuai regu setelah upacara selesai. Teh Santi memanggil para ketua regu. Kami diperintahkan untuk memasukkan semua barang ke tas, tidak menenteng apapun, dan semua harus sudah sarapan. Kami akan berangkat sendiri (tidak dengan pembina). Sambil menunggu beberapa orang sarapan, kami membicarakan tentang kendaraan yang akan kami gunakan, dan kami sepakat untuk menggunakan bis Damri.

Tidak lama, semua pun siap. Kami langsung berangkat dan menunggu Damri di depan PH. Sekitar 20 menit menunggu, dari kejauhan terlihat bis, dan setelah dekat ternyata itu bis Damri AC jurusan Dipatiukur-Jatinangor. Kami naik dan mengambil tempat masing-masing. Tidak lupa, kami juga membayar ongkos sebesar Rp. 4000,00 pada kenek yg menagihi kami. Saat itu saya merasa setelah kami naik, bis menjadi sangat ribut meskipun saya sendiri tidak berbicara. Perjalanan cukup lama, sehingga ada yang tidur, main hp, ngobrol. Sedangkan saya diam dan mendengarkan G7 yg putri mengobrol. Mereka membicarakan ‘KT’ yang awalnya saya juga tidak tahu siapa ‘KT’ yg mereka maksud. Tapi akhirnya saya tahu karena mereka berkali-kali melihat pada orang yg mereka bicarakan tersebut.

Tidak terasa, kami sampai di Jatinangor. Kami turun, lalu berbaris satu banjar dipimpin Widya. Saya paling depan dan Nala paling belakang (alasannya ngejagain katanya). Wawa yg sudah sering ke Kiarapayung berjalan di belakang saya dan menjadi penunjuk jalan. Beberapa meter berjalan, barisan masih teratur. Tapi semakin jauh, ternyata sudah berantakan. Nalla dan Encep tertinggal jauh di belakang, Ilman tertinggal cukup jauh, dan yg lain jalan berdua-berdua (harusnya sebanjar).
Kami berhenti sebentar, menunggu Ilman, Nala, dan Encep sampai. Lalu Widya yg kelihatannya sudah stress merapikan barisan kembali. Nalla dan Encep dipindahkan ke paling depan, dan Ilman di tengah(kalau tidak salah).
Perjalanan dilanjutkan, dan seperti sebelumnya, setelah cukup jauh barisan kacau lagi. Widya pasrah dan akhirnya mengajak saya menyanyikan mars CMT meskipun pelan sambil ngos-ngosan.
Kami sudah setengah perjalanan atau lebih, saya juga tidak ingat. Semua sudah kelihatan lelah sekali. Apalagi Syara yg sampai terlihat seperti habis mandi, Widya sudah benar-benar kesal pada anak putra yang susah diatur. Hanif dan Farhayn entah bagaiman sudah berada jauh di depan. Tio dan Aji lari menyusul, lalu berhenti, lari lagi, lalu berhenti lagi. Widya pun berteriak, ” Kalian ih ! Disuruh jalan malah lari, disuruh lari pasti pada jalan geura !”. Lalu dia bilang lagi ke saya, “Ih, si Tio nge-sok pisan!”
Akhirnya Widya menyuruh kami berhenti dulu karena Ilman tertinggal jauh. Tapi Hanif dan Farhayn susah sekali dipanggil karena mereka sudah jauh. Nalla emosi dan berteriak, “Ibrahim Hanif…..Farhayn….SINI !!!”. Awalnya mereka tidak mau karena mals balik lagi, tapi akhirnya mau karena dipaksa.
Dengan sedikit kesal, Widya berhasil membariskan kami(bukan saya yg susah diaturnya). Namun, saat akan melanjutkan perjalanan tiba-tiba seorang G7putra yg berbaris agak belakang bertanya, “Teh boleh pake sendal? Lecet euy..”. Semua melihat ke arahnya dan sepatunya. Ternyata Farhayn. Nalla yang sudah capek saja sampai ngakak dan terbungkuk-bungkuk. ” Yaudah deh, boleh..”, jawab widya sambil agak bingung.
Perjalanan dilanjutkan. Jarak kami sekitar 1km lagi. Tiba-tiba terdengar suara truk dari belakang. Kami tambah senang saat truk itu berhenti, ada Teh Santi dan Kang Braja, juga beberapa anak yg kelihatannya akan camping di Kiarapayung. Kami naik ke truk tersebut(videonya ada di Affan). Alhamdulillah.. sampai juga, kami berjalan sedikit lagi dan sampai di sebuah bangunan. Di depannya ada batu besar, nama bangunannya ‘Lemdikada’. Di sana kami duduk2 dulu sebentar lalu kami harus mengikuti kang Braja ke tempat Ngaliwet.
Kami menempuh perjalanan dengan lari. Bukan sengaja, tapi memang jalannya licin dan menurun.

Kami sampai di tempat ngaliwetnya. Di sana ada yang sedang berkegiatan juga. Kami mengambil tempat perregu. Kami pun mulai ngaliwet. Saya dan putri mengambil air keatas untuk mencuci beras, bertemu dua orang kumel(kuncup melati), airnya dingin. Kami kembali ke bawah, menambahkan air, memasak. Di regu kami tidak ada yang ahli masak, untung ada putri, dia masaknya lumayan, jadi nasinya tidak seburuk kalau saya yang masak. Setelah nasi setengah matang, kami memasukkan bumbu yg sudah kami siapkan. Harum.. sedangkan saya terus-terusan mengambili abon yg sebenarnya untuk dimakan bersama nasi nanti, saya baru berhenti saat Nala mengancam jatah abon saya dikurangi. Nasi regu kami pun matang, harumnya membuat kami ingin makan duluan, akhirnya kami makan sedikit nasi itu, sambil dicoba.. dan ternyata enak. Setelah itu saya melihat Kang Raihan, Kang Dega, dan kang Tia datang, dan menghampiri tempat teh Santi. Mereka baru mengujikan SKU Terap, berjalan 2 hari. Encep mengunjungi kami. “Teh..pinjem piring”,katanya. “Dipake semua”,jawab kami. Dia menuju kumel, disana wawa sedang memainkan balon yg ia bawa, salah satu anggota regu saya berkata, “ngeliat wawa sama Encep kayak ngeliat kang—– sama teh—- ya?”. hahahaha……

Saat yang ditunggu tiba, semua selesai memasak. Kami berkumpul, sebenarnya baru boleh makan setelah adzan dzuhur. Tapi karena semua sudah lapar dan mukanya pada memelas, jadi kami diperbolehkan makan. Rasanya puas sekali, apalagi setelah berjuang masak. Regu saya lauknya telor asin dan abon, teh Santi mengomentari telur asin yg kami bawa, katanya tidak seenak kalau belinya yg satuan. Kami juga memasak telur tanpa minyak, tapi memakai daun pisang, panci saya langsung gosong, malah plastik tempat menyimpan barang dalam tas saya juga terbakar karena tidak hati-hati.
Setelah itu kami sholat. Kumel dan MP yg sudah pergi duluan ke masjid yg berada di atas meninggalkan barangnya berantakan dan tidak ada yang menjaga. Jadi barang mereka ada yang di***b*******n.

Setelah kami sholat dan melewatkan beberapa kejadian yg membuat regu saya tertawa (hanya Edelweiss yg tahu), kami berkumpul. Kang Braja menyuruh kami mengecek barang bawaan dan ternyata matras Tio ketinggalan. Tio mencari tapi tdk berhasil, MP dipanggil oleh kang Braja. Mereka mencari matras Tio dan akhirnya mereka menemukannya di dekat wc.

Kami melanjutkan perjalanan ke sebuah tempat yg kabarnya dulu bekas halang rintang. Di sana kami main games. Ada yang lucu lagi (hanya Edelweiss lg yg tahu). Teh Santi menyuruh kami berhenti saat games tersebut sedang asik-asiknya. Yaaah.. kami melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan lagi. Jalan kami sekarang menjadi cepat karena jalanan yg kami lalui menurun. Awalnya saya berjalan agak depan bersama Putri. Tapi setelah teh Santi menyusul, saya berjalan bersama Teh Santi dan kadang-kadang berlari. Saya dan Teh Santi berlari menyusul kumel yg berjalan di depan, mereka menyusul kami lagi, akhirnya kami saling menyusul. Teh Santi bilang, “darah pada turun semua nih”. Saya tidak mengerti, namun saya diam sebentar dan mengatakan “Oh..”, sambil mikir. Kami terus berjalan dan teh Santi bilang sudah dekat ke tempat kami akan beristirahat. Saat itu saya dan teh Santi menuruti gaya berjalannya kang Braja yg cukup unik, saya sampai jatuh dua kali garagaranya.
Kami sampai di sebuah tempat. Di tempat itu ada menara, menurut cerita kang Braja, dulu setiap ada eksekusi bel di menara tersebut dibunyikan, dan mayat-mayatnya dibuang ke Kiarapayung, tempat kami tadi.
hah.. perjalanan tinggal sedikit lagi. Kini saya berjalan bersama Nala dan Widya. Mereka menyanyikan lagu yg ada di iklan AdemSari, lama-lama saya juga ikut.
Kami berkumpul, dan yg akan langsung pulang memisahkan diri. Saya, Nala, dan Tio akan pulang naik angkot saja karena rumah kami dekat, kang Raihan juga, tp naik angkot yang berbeda. Sedangkan yang lain akan naik bis lagi menuju 13. Kami pun berpisah dan berjalan sesuai tujuan masing-masing.

Di angkot saya memperhatikan tangan saya. Oh.. baru saja saya mengerti darah turun yg dimaksud teh Santi itu.

best moment of 2009

————

Gerakan Pramuka Gugusdepan Kota Bandung 13007-13008 Panduputra-Nagagini Pangkalan SMP Negeri 13 Bandung.

Tagged with: , ,
Ditulis dalam Latihan Rutin, Pasukan Christina Martha Tijahahu, Pasukan Sam Ratulangi
2 comments on “Ngaliwet!
  1. Sopandi Ahmad mengatakan:

    Waduh, jadi inget masa lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sekali Memandu! Tetap Memandu!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

Arsip
Kategori
%d blogger menyukai ini: