Wide Games

Berikut adalah tulisan Nada, salah satu anggota Regu Edelweiss saat kegiatan wide games 18 Desember 2009. Enjoy!

Setelah sepakat akan pergi bersama, saya dan Nala bertemu di rumah saya dan langsung menuju smpn 13 untuk mengikuti Latihan Jumat, yaitu mencari jejak sangkuriang. Sesampainya di sana, sudah ada anggota regu Edelweiss yg lain yaitu Monica. Ada juga beberapa orang G10, G7, dan G8.

Setelah tiang bendera dipasang, saya menyiapkan upacara yang sudah terlambat cukup lama, dan setelah upacara selesai kami membawa barang-barang dan berbanjar sesuai regu. Namun, T dan para G10 sudah tidak telihat di sanggar.

Semua anggota regu berbanjar sesuai regu di ujung lapang (depan masjid smpn13), sedangkan para pemimpin regu pergi ke sanggar untuk mendapatkan petunjuk pertama dari teh Santi. Putri bergabung dengan Melati dan Tio bergabung dgn MP. Kami menunggu sebentar, dan tidak lama setelah itu Aji datang. Dia memberi tahu petunjuk tersebut pada regunya, tapi dengan keras, sehingga anggota regu yg lain tahu juga (padahal tidak boleh) dan mereka pergi paling pertama. Lalu Monica dan Wawa jg menyusul, Wawa memberi tahu petunjuk tersebut pada regunya, namun berbisik-bisik, Monica jg memberi tahu kami tanpa terdengar oleh regu Melati.

Regu saya mendapatkan petunjuk seperti ini :”Kemarin Sangkuriang terlihat bersama hewan yang kaya raya.”

Kami awalnya berpikir itu nama jalan sekeliling 13. Mutiara, tiram, tetapi kami kurang yakin karena itu hewan laut, akhirnya kami yakin Beruang, dan langsung menuju jalan Beruang. Di sana ada sepedah, tanda-tanda keberadaan Kang Raihan dan Kang Adit, tapi orangnya tidak ada. Dan ternyata mereka ada di atas pohon. Setelah lapor, kami harus mengukur tinggi tiang listrik, dan membidik tiang listrik dari sebuah bangku memakai kompas sangat kuno yg kami sendiri belum tahu cara memakainya. Setelah selesai, kami diberi petunjuk lain :”Sangkuriang pernah ke tempat ini, gunung yang berdiri gagah di Bandung Selatan, penuh dengan misteri, terkenal dengan kawah putih.”

Diamlah kami di belakang gardu listrik sekalian istirahat, Nala membuka Google (jaman modern) dan sambil menunggu loading kami berpikir. Setelah yakin gunung Patuha yg petunjuk itu maksud, pergilah kami ke sana. Bukan ke gunung Patuha, tapi ke jalan Patuha yg berada di daerah Telaga Bodas. Kami ke sana menggunakan angkot, karena takut terlalu lama di perjalanan.(di pengumuman tertulis : ongkos secukupnya. Berarti kami diperbolehkan menggunakan angkot).

Sesampainya di pos yg berada di jalan Patuha, kami bertemu kang Tia dan kang Dega yg jaga di pos tersebut. Juga ada Melati yg sudah duluan sampai di sana karena itu memang pos pertama mereka. Regu saya hrs membuat drakbar utk mendapatkan petunjuk berikutnya. Masalahnya, kami hanya membawa tiga tongkat (tiap org satu). Dan kami terpaksa menggunakan tali yg kami bawa utk mengganti tongkat terakhir. Lima menit menyiapkan alat, 10 menit membuatnya, dan kami selesai. Untuk memastikan drakbar yg kami buat kuat, saya naik dan diangkut bulak balik lapangan di jalan Patuha tersebut. Setelah dinyatakan kuat, kami diberi petunjuk :”budak leutik bisa ngapung.. babaku ngapungna peuting.. dst.”

Kami langsung tahu bahwa itu pupuh Kinanti, baru berjalan sedikit, kang Tia memanggil kami dan menyampaikan bahwa monica harus ke 13 dulu untuk remed bahasa Sunda.

Tinggalah saya dan Nala, kami langsung saja pergi ke jalan Kinanti, yg kami juga sudah tahu dimana. Kami berjalan sampai ujung jalan Kinanti, dan barulah di sana bertemu dgn teh Widi juga teh Risfa. Kami diberi waktu 10 menit utk memecahkan sandi rumput, kotak, and, dan beberapa sandi lain. Dan setelah selesai, isi sandi tersebut :”Sangkuriang berada di kaki gunung seminggu yg lalu, dia sedang makan makanan tradisional, sekarang tugas adik-adik adalah mencari makanan tradisional untuk diberikan pada sangkuriang. GOOD LUCK” (nah, saat itu Monica ygh sudah sampai di sekolah menghubungi nomor saya, tp tidak terangkat, jd dia bertanya pada kang Eka yg berada di 13, “Kang, Nada sama Nala ada dimana ya?” kang Eka bertanya lg ,”Tadi pos terakhir apa?” “Kinanti”,kata Monica “Oh..berarti selanjutnya Berlian di daerah buahbatu dlm”, kata kang Eka. Monica menelpon saya dan kali ini saya angkat, saya bilang saya dan Nala msh di Kinanti dan belum mendapat petunjuk lg, tp dia sudah terlanjur tahu jawaban terakhir dari kang Eka, dan jawabannya adalah Berlian.)

Monica menyusul ke jalan Kinanti dan kami tdk memberi tahu siapapun bahwa kami sudah mendapatkan jawaban terakhir saat itu. Dan akhirnya kami diberi petunjuk :”Batu paling keras di muka bumi ini.”
Kami yg sudah tahu jawabannya langsung menuju jalan Berlian di daerah buah batuh dalam. Di perjalanan kami bertemu MP, mereka baru selesai pos pertama dan akan break untuk jumatan dulu. Sesampainya di pos Berlian yg ternyata adalah pos terakhir yg dijaga oleh teh Ila dan teh Vidha, kami harus memunguti sampah sebanyak 20 item, kami juga tes KIM (kemampuan indera melihat, mencium, meraba, merasa, dan mendengar) tapi yg dites hanya melihat dan mencium bau.

Kami berhasil mengingat 21 benda yg kami lihat, dan dua benda yg dijawab benar dr tiga benda yg kami cium. Setelah itu petunjuknya :”kembali ke tempat asal Sangkuriang.”
Tidak salah lagi.. Sanggar !

Kami sampai di sanggar, perintah terakhir adalah membuat peta perjalanan. Selesai, dengan sedikit kesalahan yaitu letak jalan buahbatu. Tinggal menunggu regu lain yang kabarnya tersesat dulu. Setelah semua datang, kami evaluasi dan langsung ditutup dengan upacara penutupan. Tidak lupa memberikan makanan tradisional berupa beberapa comro yg kami beli di jalan pada sangkuriang. Ternyata Sangkuriangnya dalah kang Braja.

Regu yg tidak terlalu bagus MP, yg sedang-sedang saja Melati, dan yg lumayan Edelweiss😉 (karena memang Edelweiss G9)

Sebelum pulang, sementara yg lain bermain UNO saya dan Nala belajar menggunakan kompas kuno yg sempat menyesatkan kami saat membidik tiang listrik. Saya jg belajar cara benar mengukur tinggi dan lebar. Semoga kami dapat belajar banyak hari itu.

*disini Melati dan MP nya yg G7.
Untuk Esti dan Widya sayang kalian tdak ikut.

Gerakan Pramuka Gugusdepan Kota Bandung 13007-13008 Panduputra-Nagagini Pangkalan SMP Negeri 13 Bandung.

Tagged with:
Ditulis dalam Pasukan Christina Martha Tijahahu, Pasukan Sam Ratulangi, Wide Games
3 comments on “Wide Games
  1. nadahasya mengatakan:

    wah kang, saya ternyata cukup eksis di blog ini :p
    hehehehe kalo dibaca ulang ketawa sendiri liat hasil tulisan yang masih ancur gini, tp yaaa lumayan lah untuk menambah koleksi, huahahaha

  2. Kak Yanny mengatakan:

    Wah membaca Recount ini sampai ngeces ingat jaman baheula waktu masih jadi penggalang 1211-1212 tahun 1982-1985…Cara berceritanya runtut, sistimatis, ga pakai flash back, isinya bisa dijadikan pelajaran dan pedoman bagi yang belum pernah wide game maupun yang sudah pernah manjalaninya…cuma ada beberapa singkatan yg buat penasaran. ayo yang lain share juga pengalamannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sekali Memandu! Tetap Memandu!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

Arsip
Kategori
%d blogger menyukai ini: