“Saya Pramuka!”

“Pramuka? Nggak ah!”, begitu jawaban yang terlontar ketika seorang siswa ditanyakan mau atau tidak menjadi anggota Gerakan Pramuka (GP). Selain itu masih terdapat jawaban lain, seperti: nggak rame, bosen, capek.  Faktanya, saat ini di Kota Bandung, terdapat gugusdepan berbasis sekolah (SMP dan SMA) yang sudah tidak aktif lebih dari lima tahun karena tidak lagi memiliki anggota.

Bagaimana tidak, jika seperti itu gambaran yang dimiliki oleh sebagian besar pelajar yang pernah saya temui. Salah satu faktor penyebab hal itu adalah hilangnya identitas GP yang memiliki kebesaran masa lalu dan saat ini menjadi bukan siapa-siapa.

Tanpa mengecilkan peran anggota dewasa GP dimanapun berada, banyak dari mereka yang telah melupakan arti GP dan Kepramukaan kemudian melakukan hal yang merugikan GP. Gerakan Pramuka menyelenggarakan kepramukaan sebagai cara mendidik kaum muda, dengan bimbingan orang dewasa. Sementara itu, Kepramukaan adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, serta praktis. Dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur.

Satu contoh sederhana, kebijakan diwajibkannya penggunaan seragam GP bagi seluruh siswa yang kemudian menjadi bumerang bagi GP. Banyak siswa berseragam pramuka padahal bukan anggota GP, lalu melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Masyarakat umum tidak akan peduli bahwa mereka yang beseragam pramuka tersebut bukan anggota Pramuka, yang mereka pahami ada siswa beseragam pramuka melakukan tindakan tidak terpuji. Hal tersebut menyebabkan nama GP semakin buruk dan tidak jelas di masyarakat.

Contoh berikut adalah proses pembinaan di gugusdepan yang kurang tepat, yaitu pemaksaaan siswa SD yang belum berusia 11 tahun menjadi Penggalang asal jadi. Tanpa melalui proses pengujian syarat kecakapan umum dan pelantikan yang sesuai dengan aturan yang ada. Hal tersebut dapat menimbulkan kebosanan. Ketika siswa SD memasuki SMP, banyak yang merasa sudah tahu dan pernah menjadi pramuka kehilangan minat untuk mengikuti GP di SMPnya. Banyak contoh lain yang tidak akan cukup jika dibahas satu persatu. Melalui sebuah kajian ilmiah dapat dicari dan ditelusuri lebih jauh faktor penyebab hilangnya identitas GP.

Solusi untuk memulihkan identitas GP adalah bagaimana anggota dewasa sebagai pendukung dan pembimbing penyelenggaraan Kepramukaan, menepati ikrar yang diucapkan ketika dilantik. Salah satu isinya berbunyi: “…akan bersungguh-sungguh melaksanakan tugas kewajiban kami sebagai… sesuai dengan ketentuan yang berlaku, untuk mengantarkan kaum muda Indonesia ke masa depan yang lebih baik”.

Akankah kerinduan terhadap seruan bangga “Saya Pramuka!”  segera terwujud?

JAYALAH PRAMUKA!

Gerakan Pramuka Gugusdepan Kota Bandung 13007-13008 Panduputra-Nagagini Pangkalan SMP Negeri 13 Bandung.

Tagged with:
Ditulis dalam Pembina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sekali Memandu! Tetap Memandu!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

Arsip
Kategori
%d blogger menyukai ini: