Upacara dan Jatidiri Pramuka

Saya sebagai seorang pembina pramuka penggalang sangat terkejut ketika suatu hari bertemu seorang adik penggalang yang di tangan kirinya telah menempel tanda kecakapan terap tetapi ternyata tidak hapal mengucapkan trisatya dan dasadarma.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Tentunya ini adalah pekerjaan besar bagi kita semua para pembina pramuka, jangan-jangan kita telah lalai membina peserta didik kita, jangan-jangan kita hanya sekedarnya mengujikan setiap mata uji yang terdapat di dalam buku SKU, sehingga adik-adik kita menjadi seorang anggota Gerakan Pramuka yang tidak tahu jatidirinya sendiri. Kembali ke adik penggalang yang tadi, ketika saya berkunjung ke pangkalannya ternyata di pangkalan adik penggalang tersebut setiap latihan pasukannya tidak pernah diawali oleh upacara pembukaan latihan. Barangkali pembina pramuka yang bersangkutan telah lupa bahwa semua hal dalam Gerakan Pramuka adalah suatu cara pembinaan.

Seharusnya setiap latihan pasukan penggalang itu diawali oleh upacara pembukaan latihan dan ditutup oleh upacara penutupan latihan. Upacara tersebut berbentuk angkare yang dipimpin oleh pratama, kemudian pengibaran bendera merah-putih, pengucapan pancasila, pengucapan dasadarma pramuka, dilanjutkan dengan amanat pembina, dan kemudian ditutup dengan doa.

Mengapa upacara itu begitu penting? Karena dari rangkaian upacara pembukaan latihan tersebut banyak sekali yang dapat diperoleh adik-adik kita. Dari permulaan persiapan, adik-adik kita diharuskan membuat sendiri tiang bendera meggunakan tongkat dan tali, yang melatih keahlian mereka dalam tali-temali, lalu bentuk upacaranya sendiri yang berbentuk angkare mencerminkan masa penggalang adalah masa dimana mereka siap menerima masukan-masukan dari luar dan mulai memiliki pemikiran-pemikiran sendiri. Adik-adik kita juga diingatkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang baik yang bangga terhadap bangsanya melalui pengibaran bendera Merah-Putih dan pengucapan Pancasila, selain itu kode moral mereka sebagai anggota Gerakan Pramuka diingatkan dengan diucapkannya dasadarma pramuka, lalu sedikit amanat dari pembina mengenai kegiatan latihan hari itu, kemudian diakhiri doa memohon kemudahan, kelancaran, dan perlindungan Tuhan YME. Satu hal lagi upacara tersebut adalah upacara bisu artinya setiap aba-aba diberikan lewat suara peluit, mengajarkan adik-adik kita untuk sedikit bicara, banyak bekerja.

Begitu indahnya Gerakan Pramuka, bahkan dari upacaranya pun mengandung begitu banyak pembelajaran. Hanya saja keindahan tersebut akan hilang apabila suasana tidak khidmat, sehingga upacara hanya menjadi rutinitas yang tidak mengandung jiwa kepramukaan. Apabila itu terjadi latihan pasukan pun yang seharusnya menyenangkan menjadi hambar. Maka dari itu peran pembina pramuka menjadi sangat penting untuk dapat kreatif menciptakan suasana yang kondusif dan metode yang tepat didalam setiap pertemuan latihan penggalang karena dari sinilah dimulainya pembentukan jatidiri seorang pramuka, yaitu seseorang yang memegang teguh trisatya dan dasadarma.

Bagaimana menciptakan suasana yang kondusif dan metode yang tepat? Tak ada cara yang pasti, satu cara mungkin berhasil di satu tempat, mungkin gagal di tempat yang lain. Satu-satunya cara adalah pembina pramuka harus mau untuk terus belajar mengembangkan dirinya dan mengembangkan metode-metode latihan dengan berlandaskan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan yang terdapat di dalam AD/ART Gerakan Pramuka.

Salah satu metode yang dapat diambil misalnya belajar sambil melakukan, sistem beregu, dan kegiatan di alam terbuka. Akan tetapi harus diingat dalam menyampaikan materi-materi kepramukaan tak perlu seorang pembina pramuka yang mengatur atau mengajarkan itu semua, karena kalau itu yang terjadi tidak akan ada bedanya antara kegiatan pramuka dan kegiatan belajar di dalam kelas.

Pembina pramuka cukup menjadi teladan yang baik, yang mampu menjadi kakak bagi adik-adiknya dan dapat menjadi solusi ketika adik-adik kita memiliki masalah. Biarkan adik-adik kita sendiri yang menentukan kegiatan-kegiatan yang diinginkan, menemukan dan memecahkan masalah sendiri, belajar bermusyawarah, belajar bersosialisasi, belajar dipimpin dan memimpin, berikan mereka kesempatan untuk melakukan itu semua maka hasilnya akan sangat luar biasa. Insya Allah.

Learning to do – Doing to earn – Earning to live – Living to serve.

Gerakan Pramuka Gugusdepan Kota Bandung 13007-13008 Panduputra-Nagagini Pangkalan SMP Negeri 13 Bandung.

Tagged with: , , ,
Ditulis dalam Pembina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sekali Memandu! Tetap Memandu!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

Arsip
Kategori
%d blogger menyukai ini: