Pramuka, di Mana (Lagi) Tempatmu Kini…? Minggu, Sep 19 2010 

Oleh Santi Sagita

Dulu, Pramuka mengibarkan bendera Pusaka di Istana Negara. Dulu, Pramuka yang pertama dicari orang jika ada keadaan darurat. Dulu, Pramuka jadi pemimpin di lingkungannya. Dulu, Pramuka dikenal orang suka membantu. Duluuuuu sekali, banyak hal yang membuat saya bangga menjadi seorang Pramuka.

Selama kurun waktu 20 tahun terakhir, pamor Pramuka semakin menurun. Bahkan pada tahun 2006, pemerintah merasa perlu untuk membantu gerakan Pramuka agar bisa “berdaya” kembali dengan mencanangkan Revitalisasi Gerakan Pramuka. Tapi hingga kini, revitalisasi belum membuahkan hasil yang signifikan di lapangan. Sepenting apakah gerakan Pramuka hingga pemerintah merasa perlu untuk turun tangan. Kwarcab-kwarcab berlomba mencanangkan dirinya sebagai Kota Pramuka. Apa yang terjadi, apakah Pramuka lantas menjadi menarik kaum muda? Pencanangan Kota Pramuka pada akhirnya diikuti oleh kebijakan wajib berseragam Pramuka. Apakah dengan terlihat orang berseragam pramuka dimana-mana membuat Pramuka hidup lagi?

Sejak ditetapkan sebagai organisasi kepanduan, Gerakan Pramuka mulai menjadi besar. Pertumbuhan Gerakan Pramuka menjadi tidak terkendali. Gugusdepan sebagai ujung tombak pembinaan anggota Pramuka mulai terabaikan. Alhasil mulai terjadi penyimpangan proses pembinaan yang kian subur. Salah satu contoh, pelantikan masal, Camping Pendidikan Dasar, muncul istilah gudep lomba, siswa kelas 4 SD harus penggalang, walau usia belum 11 tahun, dan masih banyak lagi. Yang membuat Pramuka ditinggalkan adalah Pramuka sendiri. Banyak Pembina lupa, tujuan pembinaan adalah membentuk karakter orang muda. Lomba, SKU, SKK  biarlah itu menjadi tujuan peserta didik, namun bagi pembina itu adalah alat untuk mencapai tujuan. Seperti yang Baden Powell sampaikan dalam bukunya, kepanduan adalah suatu sistem pendidikan kewarganegaraan melalui permainan. Sebagai ujung tombak Gerakan Pramuka, mari kita mengasah diri, salah satunya dengan membuka kembali buku-buku Baden Powell.

Seandainya pembinaan anggota Pramuka dikembalikan kepada yang benar dan dilakukan dengan tepat, maka dari Gerakan Pramuka akan lahir orang-orang muda yang kelak dapat memimpin bangsa ini. Pramuka dibina untuk menjadi pelopor dilingkungannya, menjadi inisiator, menjadi teladan, menjadi pemimpin. Pemimpin disini bukan hanya sebagai pemimpin formal seperti Ketua Kelas, Ketua OSIS, dll. Pemimpin dalam arti memiliki kemampuan memimpin, minimal memimpin dirinya sendiri. Bukan saja untuk sekedar tahu tali temali, dapat berbaris, atau hapal morse. Buatlah orang tahu kita adalah seorang Pramuka walau saat tidak berseragam, terutama dari perilaku dan sikap keseharian kita. Tidak akan lagi ada pertanyaan “Pramuka, dimana tempatmu kini?”. Sesuai dengan salah satu arti kiasan lambang Gerakan Pramuka, Tunas Kelapa, dapat hidup di mana saja. Pramuka tidak akan pernah kehabisan tempat untuk mangaktualisasikan diri.

Tidak perlu galau dengan kehadiran organisasi-organisasi yang dianggap menyaingi Gerakan Pramuka. Jika ingin bisa mengibarkan bendera, silakan masuk Paskibra. Jika tertarik pada kegiatan kemanusiaaan, maka bergabunglah dengan PMR, seandainya gemar berpetualang di alam pilihlah salah satu perkumpulan pencinta alam. Tapi jika ingin jadi Pemimpin, masuklah Pramuka. Scout Now, Leader Tommorow.

Penulis adalah Pembina Penggalang di Gudep KB 13008 Nagagini, Pangkalan SMP Negeri 13 Bandung dan peserta diskusi terbatas “Revitalisasi dan Repoisisi Gerakan Pramuka Jawa Barat” di aula Redaksi Pikiran Rakyat, 13 Agustus 2010.

“Saya Pramuka!” Rabu, Agu 12 2009 

“Pramuka? Nggak ah!”, begitu jawaban yang terlontar ketika seorang siswa ditanyakan mau atau tidak menjadi anggota Gerakan Pramuka (GP). Selain itu masih terdapat jawaban lain, seperti: nggak rame, bosen, capek.  Faktanya, saat ini di Kota Bandung, terdapat gugusdepan berbasis sekolah (SMP dan SMA) yang sudah tidak aktif lebih dari lima tahun karena tidak lagi memiliki anggota.

Bagaimana tidak, jika seperti itu gambaran yang dimiliki oleh sebagian besar pelajar yang pernah saya temui. Salah satu faktor penyebab hal itu adalah hilangnya identitas GP yang memiliki kebesaran masa lalu dan saat ini menjadi bukan siapa-siapa.

(lagi…)

Pindah Golongan Senin, Agu 3 2009 

Apa itu golongan? Di dalam Gerakan Pramuka, kita mengenal ada empat golongan yang dikelompokkan berdasarkan usia. Yaitu golongan siaga (7-10 tahun), golongan penggalang (11-15 tahun), golongan penegak (16-20 tahun), dan golongan pandega (21-25 tahun).

Lalu apa yang dimaksud dengan pindah golongan? Maksudnya adalah saat seorang pramuka menginjak usia golongan yang berbeda, dia diharuskan untuk pindah golongan. Misalkan seorang siaga telah menginjak usia 11 tahun, padahal teman-temannya masih berusia 10 tahun, maka adik kita tersebut diharuskan untuk pindah golongan menjadi seorang calon penggalang. Penggolongan berdasarkan usia ini sangat baik. Hasil berbagai penelitian memperlihatkan bahwa gerakan pramuka telah membagi golongan berdasarkan kemampuan serta kondisi psikologis peserta didik.

Seperti apakah proses pindah golongan tersebut? Barangkali setiap gugusdepan dapat menggunakan cara yang berbeda-beda. Sesuai dengan adat gugusdepan masing-masing.

Di gugusdepan kami, pindah golongan dilakukan dengan cara melompati tali yang dipasang ditengah-tengah lapangan setinggi lutut. Pada setiap sisi dipersiapkan bentuk upacara sesuai dengan golongannya masing-masing. Saat misalkan seorang siaga akan pindah golongan menjadi seorang calon penggalang, maka sulung membawa anggotanya yang usianya telah habis, menghadap bunda atau yandanya untuk kemudian diserahkan kepada pembina pasukan penggalang. Dari lingkaran tempat upacara siaga, pembina siaga menerima anggota perindukannya yang telah habis masa siaganya, kemudian memberi sedikit wejangan, dan menyerahkan anggotanya kepada pembina pasukan.

(lagi…)

Mengawali Tahun Ajaran Baru Jumat, Jul 24 2009 

Bulan Juli tiba. Saatnya tahun ajaran baru bagi sekolah dimulai. Baik itu sekolah dasar, sekolah menengah pertama, maupun sekolah menengah atas dan kejuruan. Semua sibuk menerima siswa baru. Bersama-sama setiap sekolah mengadakan pengenalan lingkungan sekolah terhadap siswa baru mereka.

Dikarenakan gugusdepan tempat saya membina berpangkalan di sekolah, tentunya penerimaan anggota gugusdepan pun berbarengan dengan tahun ajaran baru.

Apa saja hal yang harus diperhatikan tatkala penerimaan anggota yang baru?

(lagi…)

Upacara dan Jatidiri Pramuka Kamis, Mei 28 2009 

Saya sebagai seorang pembina pramuka penggalang sangat terkejut ketika suatu hari bertemu seorang adik penggalang yang di tangan kirinya telah menempel tanda kecakapan terap tetapi ternyata tidak hapal mengucapkan trisatya dan dasadarma.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Tentunya ini adalah pekerjaan besar bagi kita semua para pembina pramuka, jangan-jangan kita telah lalai membina peserta didik kita, jangan-jangan kita hanya sekedarnya mengujikan setiap mata uji yang terdapat di dalam buku SKU, sehingga adik-adik kita menjadi seorang anggota Gerakan Pramuka yang tidak tahu jatidirinya sendiri. Kembali ke adik penggalang yang tadi, ketika saya berkunjung ke pangkalannya ternyata di pangkalan adik penggalang tersebut setiap latihan pasukannya tidak pernah diawali oleh upacara pembukaan latihan. Barangkali pembina pramuka yang bersangkutan telah lupa bahwa semua hal dalam Gerakan Pramuka adalah suatu cara pembinaan.

Seharusnya setiap latihan pasukan penggalang itu diawali oleh upacara pembukaan latihan dan ditutup oleh upacara penutupan latihan. Upacara tersebut berbentuk angkare yang dipimpin oleh pratama, kemudian pengibaran bendera merah-putih, pengucapan pancasila, pengucapan dasadarma pramuka, dilanjutkan dengan amanat pembina, dan kemudian ditutup dengan doa.

Mengapa upacara itu begitu penting? (lagi…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.