Oleh Santi Sagita
Dulu, Pramuka mengibarkan bendera Pusaka di Istana Negara. Dulu, Pramuka yang pertama dicari orang jika ada keadaan darurat. Dulu, Pramuka jadi pemimpin di lingkungannya. Dulu, Pramuka dikenal orang suka membantu. Duluuuuu sekali, banyak hal yang membuat saya bangga menjadi seorang Pramuka.
Selama kurun waktu 20 tahun terakhir, pamor Pramuka semakin menurun. Bahkan pada tahun 2006, pemerintah merasa perlu untuk membantu gerakan Pramuka agar bisa “berdaya” kembali dengan mencanangkan Revitalisasi Gerakan Pramuka. Tapi hingga kini, revitalisasi belum membuahkan hasil yang signifikan di lapangan. Sepenting apakah gerakan Pramuka hingga pemerintah merasa perlu untuk turun tangan. Kwarcab-kwarcab berlomba mencanangkan dirinya sebagai Kota Pramuka. Apa yang terjadi, apakah Pramuka lantas menjadi menarik kaum muda? Pencanangan Kota Pramuka pada akhirnya diikuti oleh kebijakan wajib berseragam Pramuka. Apakah dengan terlihat orang berseragam pramuka dimana-mana membuat Pramuka hidup lagi?
Sejak ditetapkan sebagai organisasi kepanduan, Gerakan Pramuka mulai menjadi besar. Pertumbuhan Gerakan Pramuka menjadi tidak terkendali. Gugusdepan sebagai ujung tombak pembinaan anggota Pramuka mulai terabaikan. Alhasil mulai terjadi penyimpangan proses pembinaan yang kian subur. Salah satu contoh, pelantikan masal, Camping Pendidikan Dasar, muncul istilah gudep lomba, siswa kelas 4 SD harus penggalang, walau usia belum 11 tahun, dan masih banyak lagi. Yang membuat Pramuka ditinggalkan adalah Pramuka sendiri. Banyak Pembina lupa, tujuan pembinaan adalah membentuk karakter orang muda. Lomba, SKU, SKK biarlah itu menjadi tujuan peserta didik, namun bagi pembina itu adalah alat untuk mencapai tujuan. Seperti yang Baden Powell sampaikan dalam bukunya, kepanduan adalah suatu sistem pendidikan kewarganegaraan melalui permainan. Sebagai ujung tombak Gerakan Pramuka, mari kita mengasah diri, salah satunya dengan membuka kembali buku-buku Baden Powell.
Seandainya pembinaan anggota Pramuka dikembalikan kepada yang benar dan dilakukan dengan tepat, maka dari Gerakan Pramuka akan lahir orang-orang muda yang kelak dapat memimpin bangsa ini. Pramuka dibina untuk menjadi pelopor dilingkungannya, menjadi inisiator, menjadi teladan, menjadi pemimpin. Pemimpin disini bukan hanya sebagai pemimpin formal seperti Ketua Kelas, Ketua OSIS, dll. Pemimpin dalam arti memiliki kemampuan memimpin, minimal memimpin dirinya sendiri. Bukan saja untuk sekedar tahu tali temali, dapat berbaris, atau hapal morse. Buatlah orang tahu kita adalah seorang Pramuka walau saat tidak berseragam, terutama dari perilaku dan sikap keseharian kita. Tidak akan lagi ada pertanyaan “Pramuka, dimana tempatmu kini?”. Sesuai dengan salah satu arti kiasan lambang Gerakan Pramuka, Tunas Kelapa, dapat hidup di mana saja. Pramuka tidak akan pernah kehabisan tempat untuk mangaktualisasikan diri.
Tidak perlu galau dengan kehadiran organisasi-organisasi yang dianggap menyaingi Gerakan Pramuka. Jika ingin bisa mengibarkan bendera, silakan masuk Paskibra. Jika tertarik pada kegiatan kemanusiaaan, maka bergabunglah dengan PMR, seandainya gemar berpetualang di alam pilihlah salah satu perkumpulan pencinta alam. Tapi jika ingin jadi Pemimpin, masuklah Pramuka. Scout Now, Leader Tommorow.
Penulis adalah Pembina Penggalang di Gudep KB 13008 Nagagini, Pangkalan SMP Negeri 13 Bandung dan peserta diskusi terbatas “Revitalisasi dan Repoisisi Gerakan Pramuka Jawa Barat” di aula Redaksi Pikiran Rakyat, 13 Agustus 2010.