Sekali Lagi Jadi Juara Lomba Tingkat II

Lomba Tingkat 2, atau yang lebih dikenal dengan lt2 ini sudah menjadi pembicaraan sehari-hari di sanggar, sampai ada pemusatan latihannya juga. Tapi para G9 kurang mengikuti pemusatan latihan tersebut dikarenakan UN dsb.
Kami latihan setiap Jumat dan Sabtu dengan materi berbeda setiap latihannya, dan sampai satu hari sebelum lomba dilakasanakan pun kami masih terus berlatih dan mengujikan SKU. (langsung ke h-1 aja ya, panjang ceritanya)

Jumat, 04 Juni 2010
Karena masih perlu berlatih dan mengujikan SKU sedangkan teh Santi hanya bisa di sanggar sampai pukul 2 siang, jadi kami berkumpul jam 9, G7 hanya mengikuti pelajaran pertama dan selanjutnya dispen.
Saya sampai di sanggar terlambat 10 menit, dan di depan sanggar para G7 sudah berlatih, Widya belum datang. Saya langsung masuk sanggar dan melihat kain putih menutupi karpet. Ternyata kain tersebut akan dipotong untuk dijadikan mitela, Biyya sedang menggarisi kain tersebut dan mencontoh mitela yang sudah jadi, sedangkan Mila mengukur sesuatu menggunakan penggaris untuk keperluan p3k. Saya kembali ke depan sanggar dan duduk di sebelah Arti yang sedang membaca BOYMAN, setelah itu sibuk menghafal kode morse.
Setelah selesai menghafal kode morse, saya kembali ke dalam sanggar. Tadinya akan belajar taksir ukur bersama Arti, tapi ternyata Arti masih membaca, dan ketika akan berlatih morse bersama Syara dan Lulu, mereka juga masih berlatih membuat drakbar. Melihat saya yang nganggur, teh Santi menyuruh saya membantu Biyya memotong kain, akhirnya teh Santi juga ikut membantu. Kami sampai 2 kali ganti gunting karena gunting yang kami pakai selalu mintul, teh Santi bilang, gunting yang sudah dipakai menggunting kain jangan dipakai untuk menggunting kertas, nanti jadi mintul. Ternyata kain itu cukup untuk membuat 2 buah mitela dan 3 gulung perban. Saya dan Biyya pergi ke tukang jahit di belakang sekolah untuk mengobras mitela dan perban gulung tersebut, sekalian mencari stik eskrim dan plastik kecil.

Sebelum pergi saya mengantar Biyya dulu membeli minum di kantin. Di tukang jahit kami disuruh menunggu karena mongobras tidak memerlukan waktu yang terlalu lama, lalu bertemu beberapa guru 13 yang sedang mengambil jahitan. Saya mengobrol dengan Biyya tentang perpisahan sekolah angkatan saya. Setelah agak lama, Arti dan Putri menyusul, mereka bilang kami lama dan saya tidak membalas sms dari Arti. Saat itu saya baru ingat bahwa hp saya tertinggal di sanggar. Karena jahitan belum selesai, Arti dan Putri menawarkan untuk membelikan plastik dan stik eskrim karena mereka akan ke palasari, saya dan Biyya tentu mau dan akhirnya tugas membeli stik eskrim dan plastik diserahkan pada mereka. Ketika akan membayar, saya tidak tahu berapa, bapak penjahitnya pun bilang,”Berapa ajalah…”. Saya dan Biyya tambah bingung. Tadinya saya akan memberikan uang seribu (masa iya seribu?)tapi akhirnya limaribu, dan tidak diberi kembalian (obras berapaan sih emangnya?). Akhirnya kami kembali ke sanggar.

Di sanggar Widya sudah datang. Setelah itu kami kembali berlatih sesuai juru masing-masing, ada juga yang mengujikan SKU. Saya sendiri latihan morse bersama kang Braja, tapi hanya sekali, karena ada keperluan dulu, dari 50 karakter yang kang Braja kirim, 1 salah. Setelah itu saya belajar taksir ukur dulu.
Saya dan Widya memfotokopi materi-materi penting pada buku Boyman milik teh Santi. Setelah itu membagikannya pada masing-masing juru, kami juga membacakan kembali anggota setiap juru (ini hari kamis atau jumat sih? Lupa, tapi tulis aja ya). Tidak terasa sudah bel pulang, jadi sudah ramai.
Saya kembali berlatih morse bersama kang Braja. Kali ini harus bergantian dengan beberapa anak MP dan Kumel yang sedang mengujikan SKU. Setiap kang Braja mengirimkan pesan, saya selalu salah satu, hingga beberapa kali. Tapi akhirnya, saya sudah tidak salah satu lagi, melainkan salah tiga. Wah, bagus sih nggak salah satu, tapi malah tambah banyak, tiga. “Lieur, ah…”, kata Encep sih gitu. Tapi saya terus mencoba, sampai akhirnya betul semua, ketika dicoba sekali lagi, tetap betul semua, saya pun mengakhiri latihan morse. Kang Anto juga bilang, morse itu harus fokus, makanya saya sering refleks mengatakan ‘suuuut’ ketika ada keributan, meskipun sedikit (maaf Syara). Dan kebetulan juga besok di Lt, yang mengirimkan kodenya kang Braja, tapi tenang, kami tidak mendapat bocoran sama sekali ;)

Kebutuhan ppgd, semaphore, dan morse sudah masuk tas. Tinggal taksir ukur, tali temali, dan pengetahuan umum. Tas besar sudah tidak muat, dan kami memang berencana untuk membawa dua buah tas. Saya pun meminjam tas kang Dega. “Saya mah mau aja minjemin, asal dikasih solusinya..”, itu jawaban kang Dega saat saya meminjam tasnya. Memang, jika tas kang Dega kami gunakan, mau dibawa menggunakan apa barang-barang kang Dega nanti.
“Pinjemin tas kamu aja nad…”, teh Ila memberi usul. Kami berpikir sejenak, dan akhirnya mau. Saya mengeluarkan barang-barang saya dan menitipkan sebagian di pojok regu, lalu memasukkan barang yang penting ke dalam sebuah map. Tapi karena terlalu penuh, jadilah mapnya kami lakban setiap sudutnya, teh Ila dan Widya malah sengaja terus-menerus menempeli lakban di map saya. Setelah tas saya kosong, kami kembali ke kang Dega dan menawarkan solusi kami tersebut. Awalnya kang dega tidak mau. “Gapapa Deg… masih gagah kok Deg…”, teh Ila berkomentar. “Iya kang… daripada tas aku yang selempang…”, Widya juga menambahkan. Akhirnya tas kotak-kotak coklat saya pun diterima sebagai solusi oleh kang Dega, meskipun ada bagian yang ditutupi oleh pin hijau (gatau akhirnya dipake apa enggak). Semua barang pun masuk dalam tas, meskipun ada juga yang baru akan dimasukkan besok, tapi sudah disisakan ruang untuk menyimpannya.
Di sela-sela packing, kami dipanggil oleh teh Santi. Teh Santi meminta pendapat kami tentang siapa yang tidak berangkat, karena kami 9 orang, sedangkan yang berangkat hanya 8 orang. Saya menyebutkan satu nama, begitupun Widya, tapi kami saling tidak mengetahui siapa yang disebutkan masing-masing. Kami meneruskan packing. Tak lama teh Santi memanggil kami lagi, dan dengan berat memutuskan yang tidak berangkat adalah Putri. Dengan berat hati juga kami menerima keputusan tersebut, tapi Putri belum diberi tahu, teh Santi yang akan bicara nanti.
Teh Santi juga menyuruh saya memasukan buku Boyman secara diam-diam ke tas Arti agar Arti dapat belajar Sandi yang tadinya tugas Putri. Saya diberi tugas membuat telor dadar untuk 9 org, dan Widya nugget utk 9 org juga, karena kemungkinan para G7 pulang malam karena masih harus mengujikan SKU, jadi besoknya mereka tidak usah memasak lauk. Saya dan Widya pulang duluan, saya tentunya dengan menenteng map berlakban di sana-sini, maksa banget :(

Sabtu, 05 Juni 2010 (hari lomba)
Seperti biasa, saya tidak datang pukul 6 tepat, terlambat sedikit, dan ternyata Widya pun belum datang. Tapi kumel sudah datang sejak jam 5 pagi, sudah ada juga MP(yg berrempat), mereka sedang mengobrol dengan teh Santi. Teh Santi juga terlihat sedang membraso sebuah lonceng bergambar sapi.
Saya menghampiri mereka, yaaah tempat duduknya basah semua, jadi tidak bisa ikut duduk. Tak lama Widya datang, kami berdua memutihkan sepatu menggunakan kertas dan Aqua yang berada di atas pojok teratai (kalo belum bayar tagih Widya aja). Saya juga ikut membraso sabuk saya, tapi berhubung teh Santi bilang saya ‘teu bisaeun’ jadi diambil alih oleh teh Santi. “Nad, berapa taun ga dibraso sih? Ijo banget…”, teh Santi memperhatikan sabuk saya sambil terus menggosoknya. Kalau dipikir-pikir iya juga sih, semenjak braso punya saya ilang, sabuk itu nggak pernah saya braso lagi, mungkin sekitar setahun. Hahahahahahaha.

Pukul 7, kami semua seharusnya sudah berkumpul di lapangan, saya dan Widya sudah siap, tapi kumel masih ada yang menjahit tanda-tanda di baju mereka, sebagian ada yang sudah selesai menjahit, tapi masih ganti baju. Saya dan Widya mengobrol di lapangan tentang ‘sakit perut’ (jangan dibahas). Lama menunggu dan bolak balik memanggil kumel di sanggar, akhirnya semua siap dan berbaris di lapangan.
Kami latihan PBB. Kami kembali ke sanggar untuk mengambil topi. Saya dan Widya juga menyuruh G7 mengeluarkan makanan dan minuman mereka agar bisa dimasukkan ke tas yang akan kami bawa nanti, semua mengeluarkan makanannya dan kami memasukkannya ke tas. Tapi saat memasukkan minuman, hanya ada 5 botol, harusnya 9. “Ah, biarin, suruh siapa gak ngeluarin..”, kata Widya. Akhirnya kami hanya membawa 5 minum untuk delapan orang. Kami kembali ke lapangan, sudah membawa tas dan tongkat juga topi.
Di lapangan, teh Santi sedang menyampaikan pesan kepada G7 yang akan berangkat lomba, sekalian menyampaikan dengan berat hati bahwa ada satu orang yang tidak berangkat. Putri. Teh Santi juga mengingatkan kami untuk melengkapi atribut dan keperluan lomba, kalau tidak terpenuhi, lebih baik kami tidak ikut. “13 belum pernah kalah di lt 2, jangan buat sejarah baru…”, begitu kata teh Santi. Karena G7 belum punya tanda ramu, Putri membeli ke kosambi, Widya meminta cap ke sekolah, G7 melengkapi pakaian mereka dan saya daftar ulang ke Muhammadiyah.
Saya memutuskan kembali ke sekolah setelah daftar ulang dan mendapat nomor peserta : G2.001 . Di jalan saya bertemu regu saya yang ternyata sudah berangkat, akhirnya saya juga kembali ke Muhammadiyah.
Sampai di Muhammadiyah, saya membayar uang daftar (belum bayar pas daftar ulang). MP datang, Putri belum datang juga, kami menunggu sambil mengisi kartu peserta menggunakan bolpoint Boxy, yang setelah itu langsung saya masukkan ke dalam saku, kebiasaan…(padahal kalo gak salah itu punya encep, belum dibalikin sampai sekarang, lupa). MP juga setelah itu menghilang. Teh Risfa dan teh Widi susah dihubungi, setelah akhirnya bisa, katanya Putri sedang menuju Muhammadiyah. Setelah Putri, teh Widi, dan teh Risfa sampai, para G7 langsung ‘sibuk’ dengan tanda ramu mereka. Ternyata barang kami ada yang tertinggal, bidai dan beberapa atribut. Putri, teh Widi dan teh Risfa kembali ke 13 untuk mengambil barang-barang tersebut.

Semua telah siap, kami mengikuti upacara pembukaan Lomba Tingkat 2 dan Pesta Siaga tersebut. Widya menjadi perwakilan dari penggalang putri.
Setela upacara selesai, kami berbaris sesuai nomor peserta. Setelah menerima sedikit pengarahan, kami langsung menuju pos pertama, yang ternyata adalah SMK Medina. Di sana kami diharuskan menjawab soal tentang pengetahuan umum, saya dan Lulu kebagian tentang pengetahuan lalu lintas. Jawaban saya dan Lulu benar-benar asal, hanya nomor satu yang asal, tapi anehnya kenapa bisa tepat, hahahaha. Beberapa anak protes karena mendapat tidak sesuai dengan apa yang merelka pelajari, tapi mereka tetap harus menjawab soal yang mereka terima itu. Ada tragedi tanda ramu juga di pos ini. Aduh Milaaa…milaa.. Di pos ini juga kami dibagikan air mineral, tapi saya yang berbaris di barisan paling belakang tidak kebagian.

Kami menuju pos kedua, lapangan yang ada di jalan beruang. Ternyata Putri, teh Widi, teh Risfa, dan MP yang dari tadi tidak terlihat ada di sana. G7 langsung ribut, ada yang bilang. “Kenapa sih harus ada mereka(MP) di sini?”, ada juga yang “Adeuh biyya..”, “Adeuh Lulu…”, dan adeuh-adeuh lainnya. Saya sendiri tidak mengerti apa maksud mereka, maklum, angkatan saya putranya punah. Setelah itu kami kembali diberikan pengarahan. Saya, Syara, dan Lulu bergabung di kelompok morse. Widya, Arti, dan Biyya di semaphore. Sedangkan Mila dan Wiwid di Sandi.
‘YES THE FIVE PRINCIPLE OF INDONESIA IS PANCASILA GOVERMENT’, kalau tidak salah begitu pesannya (yg asli tdk pake spasi). Dan setiap Syara membisikkan huruf saya selalu bilang ‘suuut’, maaf banget ya Syara, soalnya konsentrasi saya gampang ancur, maaf, maaf, maaf, kamu sangat membantu kok, lulu juga biarpun nggak bisa menjawab, tetap Bantu doa juga. Setelah membaca ulang pesan tersebut, saya mengacungkan dua jempol ke arah Syara dan Lulu, makasih loh. Kang Braja juga mengadakan sedikit kuis sambil menunggu yang lain. Saya sekali-sekali melirik semaphore dan sandi, sepertinya susah. Dan seperti janji para panitianya di pos satu, yang belum kebagian minum boleh mengambil di pos dua, akhirnya saya mendapatkan air mineral juga. Hehehe

Kami menuju pos tiga, yaitu SMK Sandy Putra. “Ih sekolahnya serem ya…”, lupa lagi siapa yang bilang, yang jelas masih dari regu saya. Kami kembali diberikan pengarahan, di sini saya sekelompok dengan Arti di taksir ukur. Widya dengan Wiwid simpul dan ikatan. Mila, Biyya, Syara, dan Lulu ppgd.
Pertama saya dan Arti diberi tugas mengukur tinggi gedung. Kami menggunakan segitiga 45 drajat andalan kang Braja. Saya sempat ragu karena melihat regu lain yang menghitung menggunakan tongkat, kelihatannya sangat rumit, kami jadi agak takut salah cara, tapi akhirnya tetap menggunakan cara segitiga tersebut, karena menurut kami itu cara yang paling praktis. Kedua, tugas kami mengukur panjang canopy, kali ini menggunakan tongkat, kami selesai lumayan cepat, dan langsung mengumpulkan hasil kami karena sudah mulai hujan, sisa waktu kami pergunakan untuk melihat teman-teman regu kami di ppgd yang sedang membuat luka di tangan, kaki, dan kepala Syara (luka bs dibikin ya?).
Tiba-tiba hujan deras, kami berteduh ke canopy yang panjangnya hanya sekitar 1040 cm (berdasarkan pengukuran saya dan Arti tadi), sedangkan kami jumlahnya sekitar 80 anak, penuh. Kami sempat memakan nugget yang dibawa Widya, maklum lapar.

Hujan yang cukup lama akhirnya berhenti, kami melanjutkan ke pos 4 di SD Halimun. Dari sana kami ditugaskan membuat peta perjalanan kembali ke Muhammadiyah. Di perjalanan saya bertugas menghitung langkah, Widya menghitung waktu dan yang lain mencatat tempat penting yang kami lalui dan pada langkah ke berapa kami melewatinya. Catatan kami sudah lengkap saat sampai di Muhammadiyah. Tapi ternyata kami harus langsung mengumpulkan peta tersebut, sedangkan peta kami masih belum bisa dibilang peta, masih sangat berantakan. Kami diberi waktu untuk merapikannya terlebih dahulu, tapi baru sebentar kami sudah ditagih kembali. Terpaksa kami mengumpulkannya. Peta kami benar-benar Aneh, orang yang menggunakannya bisa dipastikan akan tersesat.
Kami masuk dan langsung menuju kelas atas, di sana kami ditugaskan mencatat fasilitas/ tempat penting apa yang sudah kami lewati.
Setelah itu, karena sudah banyak yang mengeluh lapar, kami makan satu porsi untuk 8 org karena takut tidak sempat. Benar saja, tak lama setelah itu kami dipanggil untuk PBB, untung saja sudah sempat merapikan pakaian.
Kami PBB di ruang kelas, karena lapangan banjir akibat hujan deras tadi. PBB kami lancar, tapi saat lencang kanan Mila dan Widya tidak cukup karena terhalang oleh bangku, sehingga harus digeser sedikit.
Setelah selesai kami bisa makan dengan benar, tidak lupa mengembalikan kompasnya Encep, lalu kang Anto menghampiri kami. Telor yang saya buat bagi saya keasinan, tapi bagi yang lain biasa saja, malahan tawar menurut Lulu. Kang Anto juga kami tawarkan, dan ternyata kang anto sependapat, telornya terlalu asin. Kang Anto mengajak kami berbicara sebentar.
“Silakan bisa dibuka topinya…”, kanga Anto membuka obrolan kami. Lalu kami disuruh bolak balik memakai-melepas topi. Akhirnya kang Anto mengajarkan ‘buka topi’ pada kami. “Buka topi…bruak..broek..cabok siah…”, kami mengulangnya beberapa kali, lalu melanjutkan obrolan yang intinya, kita harus selalu merasa luar biasa. Dan setelah itu seluruh peserta dipanggil ke lapangan untuk mengikuti upacara penutupan.

Saat yang ditunggu. Pengumuman. Sedang putra, baik putra, lalu juara putra, saya tidak terlalu ingat, yang jelas juara putranya yang barisan sebelah kiri regu saya. Dilanjutkan dengan sedang putri yaitu regu matahari, baik putri juga regu matahari dari pangkalan yang berbeda tentunya. Dan saat diumumkan juara putri, dengan nilai seribu sekian…”Melati dari Jayagiri…”, kata panitianya.”Dengan nomor gugus depan 13008…”, lanjutnya. Alhamdulillah…
Kami sangat senang, Widya maju ke depan, menerima penghargaan. Setelah itu semua peserta dan panitia bersalam-salaman. Lalu kami seregu menghampiri teh Santi, kang Braja, dan yang lain. Wah, kang Braja langsung heboh tentang morse, saya menjawab betul semua ;) Tapi morse yang dikirimkan kang Braja itu masih 1/10 kecepatannya dibandingkan dengan yang ‘benerannya’, wah, jadi deh hidung saya nggak jadi ngapung. Kami kembali ke 13. Klinong..klinong..klinong,

dengan bunyi lonceng bergambar sapi yang menempel di tongkat Widya.

Di 13, kami berkumpul bersama teh Santi. Evaluasi. Penghargaan ini buat kita semua, biarpun waktu lomba saya dan Widya menjadi Melati sementara. Lt3 juga jauh lebih berat dari ini, lt2 ini masih pemanasan kata teh Santi.
Saat mengosongkan tas, G7nya sudah banyak yang pulang, jadi barang-barang mereka dititipkan dulu di pojok Edelweiss. Tas saya juga sudah kembali, jadi tidak perlu pulang menenteng map butut. Huahahaha.

Maaf ya baru muncul, padahal udah kelewat berapa hari, soalnya ada yang lupa menyampaikan tuh tuh tuh tuh teteh Widya nih ah…

About these ads

Gerakan Pramuka Gugusdepan Kota Bandung 13007-13008 Panduputra-Nagagini Pangkalan SMP Negeri 13 Bandung.

Dikaitkatakan dengan:
Ditulis dalam Kwartir, Lomba Tingkat, Pasukan Christina Martha Tijahahu, Pasukan Sam Ratulangi
One comment on “Sekali Lagi Jadi Juara Lomba Tingkat II
  1. nadahasya mengatakan:

    like -gak punya akun wordpress-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sekali Memandu! Tetap Memandu!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 2 pengikut lainnya.

Arsip
Kategori
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: