Saya sebagai seorang pembina pramuka penggalang sangat terkejut ketika suatu hari bertemu seorang adik penggalang yang di tangan kirinya telah menempel tanda kecakapan terap tetapi ternyata tidak hapal mengucapkan trisatya dan dasadarma.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Tentunya ini adalah pekerjaan besar bagi kita semua para pembina pramuka, jangan-jangan kita telah lalai membina peserta didik kita, jangan-jangan kita hanya sekedarnya mengujikan setiap mata uji yang terdapat di dalam buku SKU, sehingga adik-adik kita menjadi seorang anggota Gerakan Pramuka yang tidak tahu jatidirinya sendiri. Kembali ke adik penggalang yang tadi, ketika saya berkunjung ke pangkalannya ternyata di pangkalan adik penggalang tersebut setiap latihan pasukannya tidak pernah diawali oleh upacara pembukaan latihan. Barangkali pembina pramuka yang bersangkutan telah lupa bahwa semua hal dalam Gerakan Pramuka adalah suatu cara pembinaan.
Seharusnya setiap latihan pasukan penggalang itu diawali oleh upacara pembukaan latihan dan ditutup oleh upacara penutupan latihan. Upacara tersebut berbentuk angkare yang dipimpin oleh pratama, kemudian pengibaran bendera merah-putih, pengucapan pancasila, pengucapan dasadarma pramuka, dilanjutkan dengan amanat pembina, dan kemudian ditutup dengan doa.
Mengapa upacara itu begitu penting? (lagi…)